HARAPAN DI TEMPAT TERLUPAKAN

Tirza Dan Anak-anak Suku Wana

Jauh dari kemudahan, tapi harapan  itu datang  lewat langkah sederhana. Ibu Guru Tirza dan Winda hadir, membawa cahaya  bagi anak-anak  pedalaman Indonesia.

Belantara Morowali di Sulawesi Tengah; bukit-bukit sabana luas membentang, sungai mengalir di lembah hutan. Di sini Orang Wana tinggal. Mayoritas berkebun, dan meramu hasil hutan. Kita masih harus berjalan kaki berjam-jam untuk menuju dusun-dusun mereka. Future Center berdiri di dusun Saliano – di tengah lembah! Bangunan sederhana, merangkap TK dan Sekolah Dasar PESAT. Di sinilah, harapan puluhan anak-anak Suku Wana lahir dan bertumbuh. Tirza Ariance Bredabu tiba 2024. Ia menjadi mentor FC dan guru TK mendampingi anak-anak pedalaman ini.

“Sudah terlalu banyak orang pintar mengajar di kota, tetapi masih sedikit yang mau datang ke desa dan pedalaman,” Tirza Bredabu.

Keputusannya meninggalkan kenyamanan kota bukan tanpa alasan. Bagi Tirza, anak-anak pedalaman tidak boleh terus dipandang sebagai “anak daerah tertinggal.” Mereka memiliki hak yang sama untuk belajar, bermimpi, dan punya masa depan.

Anak-anak yang ia dampingi dikenal sopan dan menghormati orang yang lebih tua. Namun banyak dari mereka tumbuh dengan rasa minder dan kurang percaya diri karena terbiasa hidup jauh dari perkembangan kota. Selain itu, sebagian anak juga mengalami kekurangan gizi, dan kurangnya perhatian terhadap pendidikan di lingkungan keluarga, karena orang tua mereka tidak mengenal sekolah.

Orang tua masih membiarkan anak memilih datang atau tidak datang belajar. Karena itu, kehadiran Tirza bukan hanya menjadi guru bagi anak-anak, tetapi juga perlahan menjadi jembatan kesadaran bagi orang tua. Hari-hari mengajar tidak selalu mudah. Kadang hanya dua atau lima anak yang hadir di kelas. Namun Tirza tetap mengajar penuh semangat.“Kalau bukan saya yang melayani mereka, siapa lagi?” ujarnya.

“Anak-anak ini mengajarkan saya untuk tetap bersyukur dan menjalani hari ini dengan sukacita,” katanya. Harapan Tirza sederhana: ia ingin anak-anak pedalaman bertumbuh menjadi generasi yang takut akan Tuhan, berpendidikan, lalu kembali membangun daerah mereka sendiri suatu hari nanti.

Winda dan Harapan dari Ujung Timur Papua

Jauh di timur Indonesia, Skouw Yambe, kisah serupa juga sedang berlangsung. Wilayah ini tidak jauh dari perbatasan Indonesia dan Papua Nugini.  Secara geografis, wilayahnya terdiri dari perkampungan dengan akses yang terbatas, cuaca yang cukup ekstrem, dan fasilitas umum yang belum sepenuhnya memadai. Sebagian masyarakat hidup dari berkebun, menangkap ikan, dan pekerjaan informal lainnya.

Di sanalah Winda Novia Boimau – yang akrab dipanggil Winda – memilih untuk melayani sejak tahun 2023. Sebelum datang ke Papua, Winda bekerja di sebuah perusahaan di Makassar. Tak pernah terbayang dirinya akan menjadi guru. Namun hidup membawanya ke jalan yang berbeda.

Winda memahami bagaimana rasanya tumbuh tanpa banyak dukungan dan arahan. Karena itu, ia ingin hadir bagi anak-anak yang membutuhkan seseorang untuk percaya kepada mereka. Winda mengakui bahwa tantangan terbesar bukan hanya fasilitas, tetapi juga membangun karakter anak-anak yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Banyak anak sebenarnya cerdas, namun masih kesulitan menerapkan disiplin, tanggung jawab, dan keberanian dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, di Future Center, pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam pendampingan. Anak-anak diajar tentang kejujuran, tanggung jawab, keberanian, dan kerja sama. Bagi Winda, keberhasilan sejati bukan hanya soal nilai akademik, tetapi tentang memiliki karakter yang benar.

Di balik ketegarannya sebagai mentor, Winda sering menyimpan kelelahan sendiri. Ia pernah merasa ingin menyerah berkali-kali. Namun setiap kali itu terjadi, ia teringat wajah anak-anak yang pernah datang kepadanya sambil menangis dan menceritakan luka keluarga mereka. Ia mendoakan mereka satu per satu dan mengajarkan tentang pengampunan.

Di tempat yang jauh ini, anak-anak kecil sedang belajar tentang kasih, ketekunan, dan pengorbanan – bukan hanya dari buku, tetapi dari kehidupan guru mereka sendiri.

Menanam Harapan di Tempat yang Terlupakan

Kisah Tirza dan Winda adalah gambaran kecil dari perjuangan banyak guru di daerah 3T – terdepan, terluar, dan tertinggal – di Indonesia. Mereka hadir bukan sekadar untuk mengajar membaca dan menulis. Mereka hadir untuk memulihkan harapan, membangun karakter, dan menolong anak-anak percaya bahwa masa depan mereka berharga.

Di sini, pendidikan bukan hanya tentang ruang kelas, tapi tentang kasih yang tetap bertahan meski fasilitas terbatas. Tentang guru yang tetap datang walau murid sedikit. Mungkin, perubahan besar bangsa ini memang sedang dimulai dari tempat-tempat yang sering dilupakan dunia. (Antoni Marvin)