Menjaga Api Di Bukit Totok

“Setiap pagi kami menunggu di depan sekolah… sambil berharap: Hari ini ada berapa anak yang datang?” – Ibu Guru Murniati Lende

Di Sumba Barat Daya, jalan meliuk menembus perbukitan Totok. Rumput dan bunga-bunga ungunya bergoyang ditiup angin, dan di kejauhan tampak rumah-rumah panggung beratap tinggi seperti topi runcing, lanskap khas tanah Sumba.

Di salah satu sudut perbukitan itu berdiri sebuah bangunan kecil beratap seng. Tidak ada papan nama besar, tidak ada taman bermain warna-warni. Tapi dari sinilah, dua guru perempuan bernama Murniati Lende dan Desiana Arista Kaka menjaga satu harapan besar: agar anak-anak Totok bisa mengenal pendidikan karakter di awal usia emas mereka.

TK Kasih Karunia Terpadu sudah berjalan dua semester. Jumlah muridnya hanya tiga belas anak, dan itu pun tak selalu datang semua. “Hari ini cuma enam anak,” ucap Murniati pelan. Tapi setiap pagi, ia dan Ibu Arista tetap berdiri di depan sekolah, memandang ke arah jalan tanah yang sepi, menunggu dengan perasaan campur aduk – cemas dan berharap. Apakah mereka semua datang hari ini? Berapa anak yang datang hari ini? Atau jangan-jangan… tak ada yang datang hari ini?

Ketika satu-dua anak kecil akhirnya muncul dari balik bukit, wajah Murniati seketika cerah. Namun, di balik senyum itu, tersimpan kesedihan. “Sedih, pak,” katanya lirih. “Terlalu banyak alasan. Kalau bukan orang tuanya sibuk di kebun, ya anaknya yang tidak mau sekolah, katanya. Tapi kalau dilihat, itu alasan saja. Kita punya kerinduan anak-anak sekolah, malah orang tuanya begitu.”

Masyarakat Totok hidup sederhana. Sebagian besar menggantungkan hidup dari sirih. “Per ikat tergantung musim,” kata Murniati. Kadang, tiga ikat sirih dijual sepuluh ribu rupiah. Saat murah, penghasilan bisa lebih kecil lagi. Karena itu, membayar uang sekolah sering dianggap beban. “Padahal uang lima belas ribu itu bisa disisihkan,” gumamnya. “Tapi banyak orang tua tidak sekolahkan anaknya karena itu.”

Masyarakat berharap TK ini gratis. Ketika tahu ada biaya kecil, mereka mundur pelan-pelan. “Kami beli perlengkapan belajar pun susah,” tuturnya. “Tidak ada pemasukan dari uang sekolah.” Maka, untuk membeli pensil, buku gambar, bahkan kapur tulis, dua ibu guru ini sering menggunakan uang pribadinya.

Meski begitu, semangat mereka tak pernah padam. Hampir setiap minggu, Murniati dan Arista mengunjungi rumah-rumah penduduk, mengajak para orang tua: “Ayo mama, ayo bapa, kasih masuk anak-anaknya di TK.” Kadang disambut ramah, kadang hanya dijawab dengan senyum kikuk dan janji yang tak pasti. “Kami sudah bilang, pagi antar saja, nanti sore jemput. Kami jaga mereka. Tapi tetap juga belum bisa,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Pada sore hari, ketika matahari mulai condong, Murniati menutup pintu kelas kecil itu perlahan. Di sudut kelas, krayon-krayon patah terkumpul rapih di sebuah kotak di atas meja kayu.

Di luar, perbukitan Totok mulai temaram. Dua guru ini duduk di undakan berumput di depan TK, memandang jalan setapak tempat anak-anak biasa datang. “Saya cuma mau mereka bisa mendapatkan pendidikan di usia dini – di periode emas mereka – yang hanya lewat sebentar,” katanya pelan. “Sehingga suatu hari, anak-anak ini bisa menjalani kehidupan dengan baik.” Bagi banyak orang, mungkin ini hanya harapan kecil. Tapi di Totok, di tengah keterbatasan, harapan kecil itu adalah cahaya yang menolak padam – dijaga oleh dua guru yang setiap pagi tetap berdiri di halaman, menunggu, dengan doa dan hati bergetar.