Di kota, sekolah mudah dijangkau. Namun, bagi anak-anak pedalaman, perjalanan ke sekolah adalah perjuangan berat. Harus menyeberangi sungai, menyusuri hutan, jalan kaki berjam-jam. Mereka akhirnya tidak pernah sampai ke sekolah. Dalam kesulitan ini, guru-guru PESAT memilih untuk tinggal dan mengajar anak-anak di kampung terasing mereka.

Hari ini kita mengenal Pak Guru Hendrik Mangungsong, Dominggus, Ibu Guru Diana, Marwi dan Melan yang merambah ke lokasi tinggal Suku Lauje di atas gunung. “Perjalanan ke sini sekitar enam jam dari kota kecamatan Tinombo. Kita mendaki gunung, perjalanan yang tidaklah mudah; menyeberangi sungai, dan melewati jalur tanah yang becek dan licin,” kata Hendrik.
Saya dan rekan-rekan guru terpanggil untuk memastikan anak-anak di pedalaman bisa mendapatkan pendidikan yang setara dengan anak-anak kota. Tantangan terbesar adalah bahasa, jurang perbedaan peradaban. Kita harus menjelaskan “kulkas”, “kipas angin”, “mobil”, “ponsel”, dll yang asing bagi mereka.
Keseharian para guru di sana dimulai sejak pukul 5 pagi; menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak, karena banyak dari mereka yang tidak makan sejak malam sebelumnya. Orang tua di sana memiliki banyak anak dan sering kali tidak mampu menyediakan makanan yang cukup.
Dalam kondisi lapar, anak-anak tentu akan sulit fokus saat belajar, jelas Hendrik. Upaya ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan makan dan gizi mereka, tetapi juga menjadi salah satu daya tarik agar mereka rajin datang ke sekolah, katanya lagi. PESAT membuka sekolah dasar di pegunungan ini “SD Mo’otuwu Terpadu”, yang diperkuat dengan program pembinaan Future Center.


Di balik semua tantangan ini, para guru belajar arti kasih sejati kepada sesama. Momen-momen bersama anak-anak di Suku Lauje mengajarkan banyak hal, termasuk kisah perubahan anak-anak suku terasing ini, dari pribadi yang takut bertemu orang asing sampai menjadi murid-murid yang berani maju dan berbicara di depan kelas.
Banyak mereka kini sudah tamat dari SD kita dan melanjutkan pendidikan di kota, bahkan berkat beasiswa Future Center sudah ada murid yang kuliah di Universitas. Suatu transformasi luar biasa, dari suku yang tidak mengenal kata “sekolah” tapi kini akan lahir sarjana pertama dari suku mereka.



Perjuangan Hendrik dan guru-guru lainnya di pedalaman Suku Lauje masih terus berlanjut. Mereka tidak hanya mendidik anak-anak, tetapi membawa mereka kepada keselamatan.
Hal ini bukanlah tugas yang mudah, namun, Hendrik percaya, dengan kerja keras dan dukungan para sahabat PESAT, anak-anak di pedalaman dapat meraih masa depan yang lebih baik.
SD Mootuwu Terpadu yang didirikan PESAT di tengah mukim suku terasing Lauje adalah sekolah dasar PESAT paling jauh dan terpencil. Berada di dataran tinggi punggung pegunungan di teluk Tomini, Sulawesi Tengah.
Sekolah yang berawal dari rumah belajar ini kemudian pada tahun 2012 menjadi SD Mootuwu Terpadu, dalam bahasa Lauje, Mootuwu artinya hidup. Beberapa tahun kemudian program Future Center masuk dan melayani para murid.