Liuk-liuk jalan membelah Tena Teke, satu desa di kecamatan Weewewa Selatan, Sumba Barat Daya. Hamparan sawah tadah hujan di sisi barat dan bukit-bukit di sebelah timur. Desa yang jauh dari jalan raya kabupaten. Orang-orang tinggal di rumah panggung tradisional beratap runcing menjulang tinggi mirip topi penyihir.
“Kami tunggu di atas bukit ya, ada kejutan menanti kalian di sana,” ucap Lena Talo, Koordinator Future Center Tena Teke mendahului kami. Aku bersama rombongan anak-anak sekolah dasar dan para kakak pembina mendaki jalan berbatu memasuki perkampungan. Sore ini kegiatan Future Center sengaja diadakan di rumah Selly, salah satu anak Future Center. Keluarganya gembira menyambut kami di rumah panggung mereka.

“Siapa yang punya sahabat?” tanya Kak Ningsih. Ia mulai bercerita tentang persahabatan. Anak-anak memperhatikan. Sesekali berdecak, sesekali tertawa. “Sekarang, apa yang ingin kalian sampaikan pada sahabat kalian? Tulis di kertas ya? Setelah itu berikan kepada sahabatnya”, ucap kak Ningsih. Sontak suasana menjadi riuh sekali, mereka mulai menulis. Wajah-wajah mungil itu berpikir keras. Apa yang ingin ku tulis untuk sahabatku ya?
Satu per satu surat dibaca, sahabat yang mendengar ada yang terharu, tersipu-sipu, ada juga yang tertawa. Sore itu ramai sekali.


“Yang banyak kita ajarkan di sini adalah tentang karakter,” kata kak Delfince yang ikut mengajar bersama Ningsih, karakter yang lemah lembut tentunya, tidak egois, mau mengakui kesalahan, dan minta maaf, lanjutnya. Karena lingkungan dan keadaan mungkin membentuk anak-anak menjadi keras. Di Future Center kami berjuang untuk itu.
Wah, mereka itu anak-anak yang rajin, mau berjuang, kerja mereka keras, tugas rumah mereka tidak main-main, kata kak Ningsih. Ada yang mengambil air, ada yang cari kayu bakar, mengurus babi, bantu di sawah, belum lagi menjaga adik. Yah! Semua dilakukan untuk membantu kehidupan keluarga. Anak-anak melakukannya dengan taat, mereka merasa itu bagian dari tanggung jawab dalam keluarga. Keras, bukan?

“Satu hari Ardan lewat di depan FC, bocah itu menyapaku: “Selamat sore…” senyumnya manis sekali, padahal kedua tangannya penuh dengan keranjang berisi buah kenari, lumayan berat, sementara di kepala-nya memikul daun keladi untuk pangan babi,” jelas kak Ningsih menggambarkan kehidupan murid-muridnya. “Kalau tidak datang ke Future Center artinya aku sedang sibuk sekali,” jelas Ardan. Kita hampir tertawa mendengar ucapan polos bocah kelas 5 SD ini, tapi kuurungkan setelah melihat wajah-nya serius. Di rumah ia tinggal bersama adiknya yang berusia 2 tahun, orang tua mereka bekerja di tempat yang jauh. Besar sekali tanggung jawabnya. “Aku ingin seperti Ronaldo, supaya punya uang banyak,” kata Ardan memperlihatkan sepatu bola kebanggaannya, sudah usang.
Menjelang sore aku mendaki ke bagian atas bukit yang lebih tinggi, sebuah rumah tradisional Sumba yang cantik, dengan rumput seperti permadani di halamannya. Anak-anak usia remaja ini dengan pakaian adat menyambut saya dengan tarian dan nyanyian. Suaranya merdu dan tariannya atraktif.
“Selamat datang, semoga bisa kenal dengan budaya Sumba ya?” ucap Magdalena Talo. Ia melatih anak-anak menari dan menyayi. “Ini anak-anak kelas NDP Future Center, usia SMA, bagi mereka aku menjadi mentor dan kakak, mendampingi mereka supaya bisa berjalan terus mencapai puncak potensi mereka,” terangnya semangat.
Di seluruh daratan pulau Sumba, PESAT mendirikan 7 TK sejak 2 dekade lalu, dan satu Future Center di Tena Teke yang melayani 220 anak usia SD-SMA.
FC Tena Teke masih membutuhkan banyak sarana-prasarana; seperti perpustakaan yang punya koleksi buku-buku pengetahuan umum, perangkat multimedia, komputer dan lain-lain untuk memaksimalkan kurikulum Future Center. Sekitar 70% dari 220 anak di sini belum mendapatkan sponsor.
Mari Bapak/Ibu, bantu sponsori seorang anak di Tena Teke hari ini klik link berikut ini: