Kisah para sarjana yang memberi buah sulungnya, dari desa sederhana di Jawa Tengah hingga lembah sunyi di Papua, dari ruang kelas seadanya hingga rumah baca di perbatasan, kisah-kisah ini bukan sekadar cerita pelayanan. Ini adalah tentang kasih yang mau memberi sesuatu yang berharga.
“Pelayanan tidak selalu berbicara tentang banyaknya program. Kadang, ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana — seperti mendampingi satu anak untuk percaya pada dirinya sendiri.“
Di Sibolangit, Sumatera Utara, Sumiyati Rissi, S.Pd., memilih fokus pada hal itu. Sarjana lulusan STT Magelang ini melihat potensi di setiap anak, bahkan ketika mereka sendiri belum mampu melihatnya. Dengan sabar, ia menuntun mereka mengenali siapa diri mereka dan untuk apa mereka diciptakan.
Sementara di Luwu, 12 jam dari Makassar, Sulawesi Selatan, semangat serupa hidup dalam diri Naema Sing, S.Si. Saat mendampingi para murid, sarjana sains dari Universitas Tribuana ini juga menanamkan nilai-nilai, untuk menumbuhkan karakter dalam diri anak-anak yang dimentorinya.
Bergeser ke pedalaman Sulawesi Tengah, tepatnya di dusun Saliano, Kaleb Yupokolo, S.E., menjalani panggilan yang tidak mudah. Lulusan Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa Yogyakarta ini selain mengajar di sekolah dasar, ia juga berperan sebagai fasilitator pengembangan budaya masyarakat. Kehadirannya bukan hanya membawa pendidikan, tetapi juga membangun kepercayaan dan harapan.



Berpindah ke Wamena, Papua Pegunungan. Aldy Benu, S.Pd., menghadapi tantangan yang berbeda. Ia tidak hanya mengajar IPS di SMP dan SMA Anugerah Gloria Terpadu, tetapi juga mendampingi siswa dalam persiapan Olimpiade Sains Nasional. Di tengah keterbatasan, lulusan Universita Nusa Cendana ini menyalakan semangat belajar yang besar.
Sementara di Skouw Yambe, perbatasan Indonesia dan Papua Nugini, Marianus Adobia, S.Kom., melayani anak-anak yang datang dari pedalaman sungai Memberamo – mereka datang ke kota untuk sekolah. Melalui pelayanan “rumah baca”, ia dan tim menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk belajar dan bertumbuh dimana anak-anak bisa mendapatkan perhatian, pembimbingan, kasih, dan masa depan.

Kembali ke Jawa Tengah, di dukuh Celengan, barisan perbukitan di tepi Rawa Pening, ruang kelas terasa berbeda. Bukan sekadar tempat belajar, ruang ini menjadi wadah tumbuhnya kreativitas dan iman. Apriana Tubulau, S.Kom., dan tim menghadirkan pendekatan yang segar — menggabungkan literasi Alkitab dengan aktivitas kreatif yang membuat anak- anak tidak hanya memahami, tetapi juga mengalami firman Tuhan.
Dan di Desa Celengan, Jawa Tengah, pelayanan menemukan bentuknya yang paling indah: menjembatani perbedaan. Apriana Tubulau tidak hanya hadir untuk mengajar, tetapi juga membangun hubungan. Dalam kebersamaan — bahkan dalam momen seperti buka puasa bersama — lahir rasa saling menghargai yang tulus.

Lebih dari Sekadar Pelayanan
Kisah-kisah ini bukan sekadar laporan kegiatan. Ini adalah potret nyata dari hati-hati yang mau diutus, melangkah ke tempat yang tidak mudah, dan tetap setia dalam proses. Di balik setiap pelayanan, ada harapan anak-anak yang terus diperjuangkan. Karena pada akhirnya, ketika “para pembawa terang” pergi menjangkau daerah pelosok yang gelap — ini adalah tentang kasih yang berani melampaui batas. (ton)