“Setelah tamat SD, dua kali saya gagal masuk sekolah SMP,” kata Anis. Pertama karena jarak, kedua karena ayahnya belum mengizinkan ia bersekolah di luar kampung.”

Di jantung Papua, ketika kabut pagi turun seperti tirai tipis di antara lembah dan batuan karst yang menjulang, seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun memulai perjalanan yang akan mengubah hidupnya. Namanya Anis Tibul, anak Suku Meg dari Kampung Meringman, Distrik Kosarek – wilayah yang bagi sebagian besar orang hanya ada sebagai titik samar di peta, tetapi bagi Anis adalah rumah yang melahirkan mimpi-mimpi.
“Bayangkan berjalan tiga hari tiga malam hanya untuk mendaftar sekolah,” kata Anis perlahan, seolah mengulang adegan yang begitu terpatri dalam ingatannya. “Kadang lapar, kadang takut… tapi kalau mau sekolah, harus jalan.”
Kampung Meringman bukan hanya jauh dari kota – ia juga jauh dari kesempatan. Di sini tak ada sekolah. Satu-satunya SD berada di kampung sebelah, dua jam jalan kaki mendaki dan menuruni bukit.
“Setelah tamat SD, dua kali saya gagal masuk sekolah SMP,” kata Anis. Pertama karena jarak, kedua karena ayahnya belum mengizinkan ia bersekolah di luar kampung. Tapi tahun ini, di usia 15 tahun, ia memutuskan melangkah lebih jauh: menuju kota! Itulah perjalanan tiga hari tiga malam itu – menuju kota Wamena untuk mendaftar SMP, demi masa depan.
Sebenarnya ada SMP beberapa jam dari kampung, tapi gurunya tidak aktif mengajar kata Anis.
Fajar baru saja menyala di balik pegunungan ketika Anis melangkah pergi. Bekalnya sederhana: ubi rebus dan ubi mentah di dalam sebuah noken anyaman, dan keberanian!
Ia menyusuri jalur tradisional yang dilalui nenek moyangnya: jalur tanah liat, akar-akar besar yang menyembul, tebing curam, dan sungai-sungai berair jernih. Sepatu usangnya kadang ia pakai, kadang juga dilepas saat jalan berlumpur.
Pada malam hari, suhu turun drastis. Kabut turun seperti selimut putih. Di langit, bintang-bintang tampak begitu dekat. Namun keindahan itu datang bersama rasa khawatir. Biar bagaimana pun, Anis hanyalah seorang remaja tanggung, anak baru gede.
Jalan menuju Wamena bukanlah jalan. Ia adalah rangkaian bukit curam, lembah berkabut, sungai dingin, dan tanah berlumpur.
“Usahakan sudah tiba di satu kampung sebelum malam, cari rumah penduduk untuk menumpang bermalam. Berlindung dari dingin, dan harus istirahat karena lelah juga berjalan kaki seharian.
”Jalur jalan kaki ini kadang ramai, kadang sunyi sekali. Syukurnya, kadang ada saja orang yang lewat dari kampung ke kota. Jadi bisa berjalan bersama.”
“Bekal makanan kurang. Aku kehabisan ubi dalam perjalanan,” tutur Anis. Untuk minum, ia berhenti di sungai-sungai pegunungan yang airnya sebening kaca dan sedingin batu.
Di sepanjang rute itu, bentang alam Papua menunjukkan kemegahannya – rimba tebal, jurang, gelap, dan kabut yang turun tanpa peringatan.
DI UJUNG PETA, DARI SEBUAH KAMPUNG BERNAMA MERINGMAN
Kampung Meringman, Distrik Kosarek, terletak jauh di pedalaman Papua. Tak banyak yang mengenal nama itu. Jalan tanah menjadi satu-satunya jalur penghubung menuju dunia luar. Dari sinilah Anis Tibul, anak Suku Meg, memulai perjalanannya mencari pendidikan. Kampungnya kecil, dikelilingi lereng hijau dan lembah berkabut.

Bagi Anis, pendidikan bukan sekadar sekolah. Ia adalah cahaya, sesuatu yang ia pilih untuk dikejar meski penuh risiko. “Kalau sudah memilih mau sekolah,” katanya, “harus berjuang sampai dapat.” Kata “berjuang” di lidahnya terasa ringan, tapi perjalanannya membuktikan sebaliknya. Ia telah menempuh medan alam, tekanan budaya, batasan ekonomi, dan tantangan sosial – semua untuk sebuah bangku SMP.
Papua: Tanah yang Menguji dan Membentuk Kisah Anis bukan kisah tunggal. Ia adalah potret banyak anak di pedalaman Papua yang menempuh perjalanan panjang demi pendidikan.
Tanah Papua, dengan keindahan alaminya yang bak lukisan, juga menyimpan perjuangan manusia di dalamnya.
Dan di antara ribuan perjalanan itu, langkah-langkah Anis menjadi simbol harapan: bahwa dari lembah- lembah terpencil, dari kampung-kampung kecil, anak- anak Papua sedang bangkit menembus hutan, kabut, dan batasan untuk mengejar masa depan.
Ketika akhirnya berdiri di gerbang SMP di kota Wamena, Anis tahu ia telah memenangkan sesuatu yang besar: bukan hanya kesempatan belajar, tetapi keyakinan bahwa ia mampu menempuh jalan yang panjang. Dari hutan Papua hingga ruang kelas, langkah-langkah Anis menjelma menjadi harapan baru.
Dan seperti kabut pagi yang perlahan tersibak cahaya, perjalanan ini membuka jalan bagi mimpi-mimpi lain yang dibuai di pedalaman Papua.
Waktu berlalu jua meski berat, Anis akhirnya tamat SMP. Tapi bocah ini tidak ada biaya untuk lanjut ke SMA. Ia tak punya uang. tak punya siapa-siapa juga di kota. Akhirnya Anis memutuskan untuk pulang kampung, sampai di sini dulu sekolahnya. Anis menjadi tukang becak di kota Wamena. Satu bulan berlalu, hingga pada suatu hari, seorang ibu yang baik hati menjadi penumpang becaknya. Ibu itu bertanya mengapa anak remaja sepertinya jadi tukang becak. Anis menceritakan yang ia alami. Ibu yang baik itu merasa sedih. Kemudian ia meminta Anis melanjutkan sekolah, ia yang akan membiayai, sekaligus tinggal di rumahnya.
Di mata Anis, dunia tak pernah terlalu jauh untuk dijangkau. Selama kaki masih bisa melangkah, ia percaya seseorang bisa sampai.
Tiga hari tiga malam.
Ratusan ribu langkah penuh harap. Satu tujuan: pendidikan yang layak.
Kisahnya mengingatkan kita bahwa di balik karut- marut masalah Papua, ada generasi muda yang ingin maju – dan mereka tengah berjalan, menuju cahaya. (Antoni Marvin)