Rumah panggung papan beratap kayu sirap yang seluruhnya dibuat dari kayu ulin menjadi ciri arsitektur lokal di sini. Rumah-rumah berdiri dengan warna kayu orisinil, tanpa cat atau pernis. Kami melewati malam penuh bintang ditemani secangkir kopi panas sambil memandang sungai yang sesekali dilalui kapal-kapal kayu dan penarik batubara dari beranda rumah Ibu Maria, seorang guru TK PESAT.
Morning Glory
Pagi merekah, dan sarapan pagi telah siap. Bu guru Mahdalena, rekan guru Ibu Maria, yang memasaknya; daun pakis dengan terong hutan yang ditumis dengan lauk ikan Belida goreng hasil tangkapan Bu Asteria, ibu guru yang pandai menangkap ikan. Tiga perempuan pionir pendidikan anak usia dini di sini. Semuanya menjadi kemenangan kami pagi itu.
Melanjutkan perjalanan menyusuri jalan tanah yang membelah desa menuju TK Gratia Terpadu. Sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan ukiran-ukiran kayu khas Dayak dalam beragam rupa yang cantik dengan nilai seni tinggi. Yang paling menarik adalah sebuah tugu dari batang kayu besar penuh ukiran motif anggrek hutan setinggi sekitar 20 meter dengan burung Rangkong raksasa bertengger di puncaknya. Lalu “Lamin”, rumah panjang Dayak yang membentang di Utara desa. Lamin dulunya dihuni oleh puluhan keluarga dalam satu komunitas adat. Budaya dan hukum adat sangat mengikat para penghuninya.
Di ujung pematang ladang padi TK Gratia berdiri. Riuh-rendah suara menggemaskan anak-anak pun terdengar memecah keheningan pagi. Tahun ajaran ini (2009-2010) ada 20 anak yang belajar di TK. Tujuh anak TK A dan sisanya TK B. Tiga orang guru mendidik mereka saban hari, Maria, Asteria, dan Mahdalena.
Efek Musim Tanam
Tapi pagi itu hanya ada 11 anak yang datang. Ini adalah awal Oktober, hujan sudah mulai turun di hulu sungai, tanda tibanya musim tanam. Mereka menyebutnya musim “nugal”. Datangnya musim tanam kerap berdampak langsung pada TK. Sebagian keluarga ada yang membawa serta anak mereka ke ladang, dan ini membuat anak-anak absen. Ruang kelas pun terlihat lengang. Namun akan kembali normal setelah musim tanam usai. “ini hanya terjadi sekali dalam setahun,” ujar Maria.
TK Gratia dirintis pada awal tahun 2005, dan mulai dibangun pertengahan 2006, TK dengan dua ruang kelas ini seluruh bangunannya terbuat dari kayu dan berdiri tegak di ujung desa. Semua anak yang dididik adalah anak-anak Suku Dayak Kenyak.
Pagi itu anak-anak membentuk satu barisan menuju ruang kelas, mereka mengenakan serangam olah raga TK PESAT berwarna putih oranye. Pakaian mereka Nampak rapih dan wajah-wajah mungil itu begitu ceria. “Mereka adalah anak-anak yang cerdas, rajin belajar dan dengar-dengaran,” kata Bu Guru Asteria. Mendengar dan melihat mereka bernyanyi dalam gerak penuh sukacita yang dipandu ibu guru membuat kita turut larut dalam kebahagiaan kanak-kanak.
Anak-anak membuat gerakan seperti burung dengan merentangkan kedua tangan seraya melompat lompat dengan satu kaki dimana kaki lainnya membujur ke belakang. Gerakan mereka dipertegas dengan dentuman suara lantai kayu yang diinjak-injak. Setelah itu kelas pun hening, ternyata para “burung pipit” tadi sedang berdoa dengan khusuk, “Tuhan Yesus berkati kami, berkati TK kami…”
Hari itu TK usai pukul 10 pagi, anak-anak berjalan pulang menyusuri pematang ladang padi yang masih hijau, sebagian anak berjalan ke arah bukit. Kami singgah di ladang dan berbicara dengan penduduk yang sedang membersihkan ladang dari rumput liar dan gulma. Seorang nenek, seorang ibu paruh baya, dan seorang perempuan muda yang cantik. Mereka sangat ramah, senyumnya langsung mengembang ketika di sapa. Kami bercakap-cakap dengan santai diselingi tawa yang hangat hingga matahari tepat di atas kepala. Lekaq Kidau, kehangatan sebuah taman di tepi Mahakam. (ton) 14102010

|