Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Surat Pembaca Hubungi Kami
 
Language Selection
Switch to English
Latar Belakang
Pembangunan Pendidikan masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan terutama berkaitan dengan perluasan akses dan pemerataan pendidikan pada jalur formal
Menurut data Susenas 2004, dari penduduk usia sekolah 7 - 24 thn yg berjumlah 76 juta orang, yang tertampung pada jenjang SD sampai dgn PT tercatat baru mencapai 41,5 juta orang atau hanya 55 persen.
Biro Statistik (BPS) melaporkan bahwa siswa SD kelas 1 - 3 yang terpaksa drop-out setiap tahun mencapai 334.000 siswa, yang berhasil lulus SD tapi tidak melanjutkan ke SMP dan putus sekolah di SMP sebanyak 759.054 anak.
Terus bermunculan kasus-kasus gizi buruk yg endemik di berbagai wilayah Indonesia sebenarnya bukan fenomena mengherankan untuk sebuah bangsa yg belum menggap pembangunan SDM (termasuk kesehatan dan pendidikan) sbg investasi terpenting bagi kesinambungan pertumbuhan ekonomi
Untuk anak usia sekolah, dari 31 juta anak, 11 juta diantaranya bertubuh pendek akibat gizi kurang dan 10 juta mengalami anemia gizi. untuk kelompok usia remaja, dan 10 juta remaja puteri (15-19 thn) sebanayk 3,5 juta mengalami anemia gizi.
Karena gangguan kecerdasan akibat kurang gizi, lebih dari 80% anak perempuan di pedesaan tidak lagi bersekolah, dan menikah muda. Akibatnya usia subur juga lebih lama dan jumlah anak yg dilahirkan juga lebih banyak. ni mengakibatkan beban hidup mereka juga lebih berat.

Faktor-faktor yg menghambat anak-anak meraih cita-cita bisa berwujud apa saja, faktor tersebut adalah "pemutus mata rantai cita-cita". Adalah tugas kita bersama untuk memecahkan masalah tersebut.

Melalui FUTURE CENTER, kami yakin bersama Anda kita dapat mengantar anak-anak meraih cita-cita mereka!
 
iklan future center
Gunakan speaker/ headset untuk mendengarkan

Future Center
Adalah program pembinaan dan beasiswa anak usia 4 sampai 20 tahun. FC dibentuk dengan tujuan untuk menolong tumbuh kembang anak desa secara holistik sehingga memiliki masa depan cerah.

FC menggunakan kurikulum pengembangan anak holistik. Bentuk pelayanannya berupa bimbingan belajar, pembinaan mental-spiritual, bermain, pemberian makanan tambahan dan vitamin, pemeriksaan kesehatan, serta mengusahakan akte kelahiran anak.

FC juga adalah program beasiswa, membiayai anak-anak desa untuk dapat melanjutkan dan menyelesaikan studinya.

fb Share on Facebook

  ,Kesaksian
ayu margareta Ayu Margaretha, FC Pampang, Samarinda, Kaltim
  Ayu Margaretha, 6 thn, adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ia anak yang cerdas dana baik, gemar mengambar dan matematika. Kemampuannya yang menonjol adalah menciptakan sesuatu dengan berbagai media. Ayu tinggal di rumah sederhana. Ayahnya bekerja sebagai petani dan terkadang juga berburu binatang di hutan dan memiliki penghasilan yg hanya cukup utk kebutuhan sehari-hari, sedangkan ibunya tidak mempunyai penghasilan. Untuk memban-tu orang tua, Ayu sering menari tarian Dayak Kenyah yg ditampilkan di lamin adat di desa budaya Pampang
   
sponsor button
-> FC NEWS
FC Sibolangit Medan;
simulasi restoran oleh anak FC

Mengajar Anak Lebih Kreatif -------------------------------------------------

Hujan baru saja berhenti, tapi keriuhan anak-anak di TK Bina Kasih membuyarkan sore yang melamun itu. Mereka sedang mengikuti Future Center, berbagai aktivitas pun mereka lakukan seperti menari, menyanyi, dan berdoa.
Kegiatan kali ini kami masih akan membangun kreatifitas anak dengan memperkenalkan mereka pada hal-hal baru, kali ini kita simulasikan kegiatan restoran; bagaimana menjadi juru masak, pelayan, pelanggan, bahkan pengusahanya.

.  
“Mereka jadi tahu bagaimana menyediakan dan membuat makanan dan minuman yang menarik, bagaimana caranya mengajak orang agar mau datang ke restorannya, serta bagaimana lelahnya bekerja,” ujar Merry, Koordinator FC Sibolangit.
.  
Anak-anak begitu antusias dan serius melakukannya seolah itu sungguhan, saya dan beberapa tamu pun dirayu untuk menjadi customer mereka, kami duduk, diberi menu, lalu memesan, makanan datang..dan rasanya seperti restoran sungguhan, tak lupa kita pun harus membayar, tapi dengan uang mainan. Luar biasa...*



Bertandang ke Rumah Anak FC
"Membantu yang Papa di Sibolangit"
keluarga rangga yg miskin  

Ayah Rangga hanyalah seorang tukang becak, ia juga adalah langganan anak-anak TK teman Rangga. Ayah, ibu dan adik kecilnya tinggal di sebuah gubuk di desanya. -----------------------------
Suatu ketika para pengajar FC mengunjungi keluarga Rangga di rumahnya, ayah dan ibu Rangga nampak begitu terharu, mereka bilang Rangga kini sangat semangat sekali pergi sekolah dan belajar di rumah, bahkan ia menjadi lebih bijak bisa membantu ibunya menjaga adik kecil
.

Keluarga Rangga sangat miskin, penghasilan ayahnya pas-pasan, tapi ayahnya berkata kalau ia akan berusaha agar anak-anaknya bisa terus sekolah dan tamat SMA.
Rangga kini duduk di TK B, ia anak yang aktif dan mudah menangkap pelajaran kata ibu gurunya. Rangga bercita-cita menjadi tentara, ia dan enam teman FCnya berasal dari desa ini, keluarga mereka hidup dengan ekonomi pas-pasan.

.
Orang desanya Rangga kebanyakan adalah penyadap nira, pembuat gula, pengrajin keranjang buah, dan petani ladang. Ayahnya sangat berterima-kasih pada FC yang sudah membantu membimbing anaknya menuju cita-cita.*
 
Future Center Sibolangit, Medan, Sumatera Utara;
Kerjasama dengan Ortu Membina Anak

Sibolangit, 60 KM dari Kota Medan, Sumatera Utara, rumah-rumah papan beratap daun dan seng usang menghiasi tanah yang berbukit-bukit. Ekonomi keluarga-keluarganya ditopang oleh pepohonan nira, cokelat, dan durian, yang membuat penghasilan mereka sebenarnya lebih dari cukup. “Namun budaya di sini mengharuskan mereka untuk mengeluarkan banyak uang pada acara-acara adat di waktu-waktu tertentu,” jelas Rostani. Itulah mengapa desa-desanya tetap nampak seperti desa miskin.

TK Bina Kasih yang telah hadir di tanah orang-orang Karo sejak lima tahun silam, dan setelah FC menjadi rantai kesinambungan bagi pelayanan taman kanak-kanak PESAT maka seluruh anak TK dan alumninya yang kini di SD diadopsi dalam FC. Para guru mengajar dengan berbagai cara demi membangkitkan kreatifitas berpikir dalam diri anak didiknya. FC pun bertekad melahirkan generasi baru yang mampu berpikir maju dan melampaui batas berpikir orang tua mereka.   fc


family of FC kids in village  

Awalnya kerjasama dengan orangtua murid amat sulit dijalin, “Kami berusaha mendidik anak-anak dengan baik, tapi sebaliknya ortu malah tidak begitu peduli dengan pelajaran maupun sikap mereka di rumah.” Di sini adalah kantong Kristen, tapi justru kami harus berhadapan dengan masyarakat yang curiga dan takut kalau anak mereka akan diajar oleh denominasi Kristen tertentu, jadi kita harus jelaskan kalau kita itu interdenominasi, lanjutnya.

Makanya ia dan para guru sering berkunjung ke rumah-rumah murid. Hasilnya, kini ortu-ortu sudah siap mendukung dan bekerjasama dalam mendidik anak-anak mereka.“Terlebih dengan Future Center, mereka sangat antusias menyambut-nya,” ujar Koordinator FC Sibolangit Merry.*

fb Share on Facebook

 
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.