| |
 |
Pupuk langka dan mahal karena permainan mafia pupuk. Tata kelola keuangan keluarga petani yang tidak teratur makin memperparah keadaan, membuat ekonomi keluarga mereka paceklik. Petani miskin adalah pemandangan umum di desa-desa di Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat.
Hampir semua petani Dayak meminjam dari para tengkulak, dan mereka dikenakan bunga setinggi 50%. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.
|
Ahmad Tabrani, Manajer Pelaksana PESAT Kalbar, melihatnya dengan jeli, ia pun menganalisa akar masalah ini dan melahirkan sebuah solusi yang berdampak positif bagi para petani.
Tawarkan Sebuah Inovasi
Ahmad pergi ke tempat-tempat berkumpul para petani, di warung, balai desa, bahkan di sawah. “Bagaimana kalau kita bentuk kelompok tani?” Tanyanya bernada ajakan. Perlu waktu enam bulan utk sosialisasi.
“Setiap panen, anggota kelompok wajib menabung minimal 50 kg, padi dikumpulkan lalu dijual, dan hasilnya dibelikan pupuk dengan harga normal,” jelas Ahmad. Anggota lalu membeli pada kelompok dengan harga normal yang ditetapkan pemerintah. Pupuk diantar langsung ke rumah petani, dan ini menghemat ongkos yang dikeluarkan petani sebesar Rp. 15.000,- per satu karung pupuk, ia melanjutkan.
Petani yang tidak bisa membeli (karena paceklik), bisa meminjam pupuk kepada kelompok, dengan hanya dikenai bunga 10%. Namun, keuntungan dari hasil penjualan dan bunga pinjaman dianggap sebagai keuntungan kelompok yang dikembalikan kepada anggota dalam bentuk SHU (sisa hasil usaha), jelasnya.
Kelompok Saaleatn, Berhasil
Sembilan belas petani, termasuk kepala desanya, setuju dengan usulan Ahmad, lalu mereka mendirikan kelompok yang diberi nama Saaleatn, dalam bahasa Dayak artinya Gotong-royong.
Kini mereka sudah merasakan dua musim panen bersama kelompok. Dampaknya bagi petani? “Sekarang kami punya tabungan dan tidak lagi bergantung pada tengkulak,” jawab seorang petani. “Kami akhirnya bisa melalui musim tanpa kelangkaan pupuk,” tambah kepala desa. “Mereka kini lebih terorganisir karena berada dalam kelompok,” ujar seorang penyuluh pertanian (PPL) desa. |
|
 |
Kelompok Saaleatn, Berhasil
Sembilan belas petani, termasuk kepala desanya, setuju dengan usulan Ahmad, lalu mereka mendirikan kelompok yang diberi nama Saaleatn, dalam bahasa Dayak artinya Gotong-royong.
Kini mereka sudah merasakan dua musim panen bersama kelompok. Dampaknya bagi petani? “Sekarang kami punya tabungan dan tidak lagi bergantung pada tengkulak,” jawab seorang petani. “Kami akhirnya bisa melalui musim tanpa kelangkaan pupuk,” tambah kepala desa. “Mereka kini lebih terorganisir karena berada dalam kelompok,” ujar seorang penyuluh pertanian (PPL) desa.
Visi, Harapan, dan Organik
Kelompok Saaleatn didirikan tanpa modal besar, tapi dapat menolong dan menjadi berkat bagi para petani miskin. “Saya ingin gereja dan para pendeta di desa dapat melihat ini dan mencontohnya, agar gereja juga dapat menjadi inovator di bidang ekonomi dan pembangunan masyarakat,” lanjut Ahmad Tabrani mengakhiri.
Anggota kelompok tani gotong-royong ini masih selingkup dusun, ke depannya akan melingkupi desa. Ahmad punya visi dirikan koperasi pupuk dan sarana produksi pertanian. Ia pun berniat mengajak petani beralih ke pupuk organik , yang diproduksi sendiri. (ton) |