Potret Indonesia sejauh ini belum terlepas dari kemiskinan, bahkan ada kecenderungan semakin banyak orang yang rentan miskin. Beberapa waktu lalu berita di berbagai media dipenuhi dgn diskusi tentang berapa jumlah orang miskin di Indonesia. Hal ini berawal dari pernyataan Presiden SBY yang menyampaikan data dari BPS bahwa angka penduduk miskin di Indonesia turun menjadi 16,6% yaitu sekitar 36,1 juta. Beberapa pengamat melihat bahwa angka ini kurang mewakili realita kemiskinan, sedikitnya karena ada tiga hal mendasar yaitu: pertama, dari pembagian Bantuan Tunai Langsung saja disebutkan ada 12,8 juta keluarga miskin dan sangat miskin.
 |
|
Jika setiap keluarga dihitung 4 org, maka jumlah penduduk miskin diperkirakan berjumlah 51,2 juta atau sekitar 23% dari total penduduk 220 juta orang. Perhitungan lain mendasarkan pada bantuan beras miskin yg dibagikan kepada 12,2 juta keluarga, yang berarti merujuk pada 48,8 juta orang miskin atau sekitar 22%. Dengan adanya kenaikan BBM pada Oktober 2006, tentunya jumlah orang miskin semakin meningkat, kendatipun ada upaya-upaya intervensi. |
Bahkan perwakilan Bank Dunia yaitu Andrew Steer menyatakan bahwa 49% atau 108 juta penduduk Indonesia hidup dalam kondisi miskin yaitu dengan penghasilan kurang dari dua dollar AS. Kalau kita memperhatikan data tentang hubungan antara pendidikan dan kemiskinan berdasarkan data Susenas Kor 2004, tampak bahwa 41,67% penduduk miskin tidak lulus SD dan 38,36% penduduk miskin yg lulus SD; artinya sebagian besar penduduk miskin adalah mereka yang berpendidikan rendah (80,03%). Padahal kalau kita perhatikan maka jumlah penduduk miskin di pedesaan lebih tinggi dibandingkan dengan di perkotaan. Sehingga dengan sendirinya masalah pendidikan di pedesaan tentunya merupakan tantangan yang serius.
Realitas Keprihatinan Pendidikan di Pedesaan.
Suatu hari saya berada di kaki gunung Merbabu dan berkesempatan mengunjungi sebuah Taman Kanak-kanak di sebuah dusun. TK tersebut menempati sebuah ruang SD dengan bangku berwarna coklat kusam, sementara guru mengajarkan membaca, menulis dan berhitung seperti layaknya anak SD. Lebih memprihatinkan lagi, guru tersebut lulusan dari SMP dan tidak pernah mengenyam pendidikan keguruan. Padahal kehadiran suatu Taman Kanak-kanak sangatlah dibutuhkan, karena pendidikan melalui TK berfungsi meletakkan dasar-dasar yang penting bagi perkembangan anak seutuhnya. Masa ini merupakan 'golden periode' bagi proses pembentukan karakter anak. Paul Meier, seorang psikiater Kristen menyatakan bahwa sampai dengan usia 6 thn, 85% karakter anak telah terbentuk. Penelitian lain yang dilakukan oleh Benyamin S. Bloom menguatkan pandangan ini. Bloom menyatakan bahwa 50% potensi anak terbentuk sampai dengan usia 5 thn dan 30% lainnya akan terbentuk sampai dengan usia 8 thn. Namun kalau kita cermati jumlah Taman Kanak-Kanak yang ada di Indonesia, hanyalah melayani sebagian kecil dari jumlah anak pada usia ini.
Share on Facebook
.........................................................................................................................