Taman kanak-kanak dan sekolah dasar sekaligus asramanya ini didirikan setelah sang kepala suku menghibahkan sebagian sabana yang dulu biasa dipakai untuk perang antarsuku di Lembah Baliem.
 |
|
“Perang sudah berakhir, sekarang zamannya pendidikan,” mungkin demikian yang terdapat dalam pikiran Mangkunik Lengka, kepala suku Dani, setelah ia berkenalan dengan PESAT belasan tahun silam. Kini TK dan SD Berasrama yang diberi nama “Baliem Terpadu” itu telah berdiri selama 14 tahun di desa Kewin, kecamatan Asologaima, dan anak-anak yang dibina sejak TK kini telah duduk di bangku kelas 1 SMA.
|
Layanan di bidang pendidikan yang dirintis PESAT sejak 1994 ini awalnya merupakan pendidikan non formal hingga tahun 1996, barulah pada 1997 hinga sekarang dijalankan pendidikan formal dengan pola asrama.
Pendidikan dgn pola asrama ini sebenarnya adalah sebagai upaya pemecahan masalah yang nampak ‘umum’ di sini bahwa lulus SD masih belum bisa membaca, menulis, dan berhitung. TK dan SD Berasrama Baliem Terpadu memiliki visi sebagai sekolah unggul dan ideal di kawasan pegunungan Jayawijaya, yang bertujuan mendidik dan memberdayakan anak Jayawijaya dengan melaksanakan kegiatan belajar-mengajar dan bimbingan secara efektif baik di sekolah maupun di asrama. Sistem pendidikannya diatur melalui manajemen mutu berbasis sekolah, berwawasan lingkungan (sosbudek+tek), dan berorientasi pada kecakapan hidup (life skill education)
|
Tahun ajaran 2007/2008 ada 161 anak SD yang dididik oleh 11 guru. Mereka adalah anak-anak dari berbagai suku yang berdiam di Lembah Baliem.
Memang bukan perkara mudah untuk mendidik dan membina anak-anak dengan latarbelakang budaya yang masih tertinggal, akan tetapi dengan semangat dan kegigihan pelayanan maka tidak mustahil jika suatu hari kelak dari hasil pendidikan sekolah asrama ini akan muncul generasi baru anak Papua yang mampu membangun daerahnya sendiri. |
 |
Hal ini pun sudah mulai tampak ketika seorang murid kelas 5, Wenda (10 tahun), berhasil terpilih mewakili SD Baliem Terpadu dan kota Wamena untuk mengikuti Olimpiade Fisika di Jakarta. Ia adalah anak Lembah Baliem pertama yang datang ke Jakarta mengikuti ajang kompetisi ilmiah akbar tersebut. “Saya ingin jadi ilmuwan,” ujar Wenda sepulang dari Jakarta, dan.. Anda tau? itu adalah kalimat yang begitu asing di Papua.
Kehadiran PESAT di Lembah Baliem adalah untuk membawa keluar generasi bangsa di sana dari belenggu tirai keterbelakangan.
|