>> Menjadi Guru bagi Orang Sakai
Menyusuri sungai menuju pedalaman hutan plus berjalanan kaki belasan kilometer untuk sampai ke mukim Orang Sakai. Mariaty, guru sekolah yang ditugaskan ke sana kemudian tinggal dan hidup di tengah-tengah mereka. Ia kini mempunyai 35 anak dari berbagai tingkat usia. Ia mengelompokkan anak-anak berdasarkan tingkat usia untuk memudahkannya mengajar. Mulai usia TK, 6-8, dan 9-11 tahun.
 |
|
mariaty mengajari mereka berbagai hal mulai dari kebersihan tubuh dan pakaian, membaca-menulis, berhitung, sampai pembentukan karakter. Setahun kemudian dampaknya sangat kentara, anak didikannya menunjukkan perubahan luar biasa; anak-anak semakin bersih, sehat, berpengaetahuan, bisa baca-tulis dan berhitung.
Bahkan kini keluarga mereka pun tidak lagi hidup nomaden, berkat pengetahuan pertanian yang diajarkan Mariaty kepada mereka. Mereka kini mengurus kebun yang telah dibuka dan bermukim di sekitanya..
|
-------------------------------------------------------------------------------- |
>> Pendidikan Formal di Simbuang, Tana Toraja
Membuka SD, Menjadi Guru Sukarela
Simbuang dihuni oleh orang-orang asli suku Toraja yang masih kuat menjalankan agama nenek moyang mereka, Alu Todolo. Orang Simbuang bertani untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Di Simbuang anak-anak tidak bersekolah ketika Minggus dan Nies tiba. “Tidak ada guru,” kata mereka. Mereka pun membuka Sekolah Dasar dan menjadi guru sukarela yang mendidik sedikitnya 72 anak murid.
 |
|
Merintis SMP dan SMA
Waktu berlalu, pelayanan berkembang dan mulai menampakkan buah-buahnya yang ranum. Sukses membuka SD, tidak membuat mereka berhenti sampai di situ, mereka malah merintis pendirian SMP bahkan kemudian SMA. Aktivitas mereka membangun generasi di Simbuang ini tak pelak sangat menyita perhatian dari pemerintah daerah, yang kemudian turut mendukung mereka dengan membangunkan tempat untuk sekolah.
|
Di Simbuang kini ada pemandangan baru yang belum pernah ada sebelumnya.. iring-iringan anak-anak berseragam sekolah.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
>> Sekolah Pertama di Suku Kaili
Suku Kaili Da`a adalah salah satu suku terasing yang mendiami wilayah Sulawesi Tengah. Suku Kaili Da`a menggunakan bahasa Kaili dengan dialek Da`a. Orang-orang suku Kaili Da`a tidak pernah duduk di bangku sekolah..
 |
|
Untuk sampai ke desa-desa orang Kaili Da’a adalah suatu pekerjaan yang terbilang sulit. Kesulitan akses ini yang menjadikan mereka tetap terasing dari peradaban modern. Hingga di abad teknologi muktahir yang berkembang pesat di kota-kota dimana kita tinggal, Orang Kaili tak pernah mengadopsi satu bagian pun dari kemajuan teknologi itu. |
Tidak Mengenal Pendidikan Anak-anak mereka bertumbuh apa adanya dengan pengetahuan yang minim yang tak lebih dari miskinnya peradaban kebudayaan Kaili. Ketertinggalan mereka sangat miris untuk dilihat.
Sekolah Pertama di Kaili
Pertengahan Juni 2008, PESAT mengirimkan dua orang tenaga pengajarnya untuk membangun generasi baru Suku Kaili Da’a, membangun sekolah darurat dan mengajarkan pendidikan di sana.
Penghujung Agustus 2008, sekolah perdana di suku terasing ini pun meluncur, dan antusias anak-anak Kaili mengalir deras mengikuti dan menikmati indahnya saat-saat duduk di “ruang kelas”. Awalnya sekolah diadakan di Bantaya, istilah untuk balai pertemuan adat bagi Suku kaili, kini Sedikitnya ada 50 anak usia sekolah berbaris rapih penuh semangat setiap pagi memasuki dua ruang kelas di “sekolah baru” mereka yang ala kadarnya, yang dinding dan lantainya terbuat dari papan dan beratap rumbia. Satu bangunan sekolah yang berdiri agak miring di tengah sabana di punggung bukit hasil gorong-royong masyarakat Kaili.