Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Surat Pembaca Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English

 

    Features

TK Kartini di Taman Laut;___________________ _ Membangun Masyarakat Tertinggal

 

Keindahan taman laut Sulawesi Utara yang tersohor ke seluruh dunia ternyata tidak terlalu menolong bagi desa-desa di pesisir pantainya sendiri. Teremaal, satu dari sekian desa tertinggal di sana. Bagaikan ada dan tiada, tapi kita melihatnya, dan mengulurkan tangan kasih..

Gugusan nyiur dan nira seolah menari bersama bermandi cahaya matahari di tepi taman laut nan indah membiru. Sebuah bus tua sarat muatan hingga ke atap nampak terengah-engah mendaki bukit berbatu, pagi itu orang-orang membawa hasil buminya ke kota Manado menempuh perjalanan berat, itulah satu-satunya bus di sini.
 

Rumah-rumah beratap rumbia dan seng yang sudah berkarat menjadi pemandangan biasa di sini, gema lonceng gereja yang sesekali menggema dari atas bukit seolah menaungi para penduduknya. Desa Teremaal, di Kecamatan Likupang, sebuah desa teramat tenang di ujung Pulau Sulawesi dihuni para nelayan dan petani kopra perantau dari kepulauan Talaud, gugusan pulau di seberang lautan.

Namun, ketertinggalan mereka di bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan membuatnya masuk dalam daftar kategori desa tertinggal (IDT). Penghasilan tiap KK di sini jauh di bawah upah minimum, dan kebanyakan penduduknya tidak bersekolah atau berhenti pada tingkat yang sangat rendah. Ketidakberdayaan dan pola hidup statis tanpa life skill kerap membuat kehidupan mereka semakin berat.

 

FISHERWOMAN of TEREMAAL VILLAGE

 

Bergulat dengan Ketertinggalan

Awal tahun 2003, sebuah lembaga pelayanan kristiani “Pelayanan Desa Terpadu” atau PESAT, berusaha membantu meringankan beban masyarakat desa Teremaal dengan membangun instalasi air bersih dan jamban umum, berbarengan dengan itu juga PESAT mengirimkan kader-kader transformasi desa dan mulai membangun  generasi baru di desa tiga dusun ini melalui taman kanak-kanak. TK Kartini, adalah TK pertama di desa ini. “Murid pertama kami semuanya kini sudah duduk di kelas 4 SD, dan tidak ada yang putus sekolah,” ujar Guru TK Kartini Delman Koly.

Tahun ajaran ini kami mendidik 25 anak, dan ini adalah tahun ajaran yang ketujuh, banyak anak-anak dan pola hidup masyarakat yang telah diubahkah melalui TK, lanjutnya. Awal kedatangan kami (2003), kami menemukan masyarakat masih sangat kurang memerhatikan kesehatan. Kebanyakan rumah-rumah di sini masih berlantai tanah, sistem sanitasi yang buruk karena tidak memiliki jamban, kesulitan air bersih karena jauhnya sumber air, bahkan binatang peliharaan seperti babi bebas berkeliaran di dalam rumah, memasak makanan pun berlangsung dalam kondisi yang tidak higienis, jelas Koly.

“Kesehatan tubuh anak sangat kurang diperhatikan orang tuanya, mereka umumnya terserang penyakit kulit dan infeksi cacing yang parah,” kenang Koly. Biar bagaimanapun pembangunan kesehatan harus diutamakan sebelum membangun intelektual anak, karena memang pengaruhnya sangat signifikan. Dalam beberapa hal kami melibatkan peran orang tua dengan memberikan pengetahuan tambahan tentang pola hidup sehat dan kebutuhan gizi anak. Makanya kini, lanjutnya, banyak anak-anak terutama anak TK sudah hidup bersih dan sehat, mereka selalu berpakaian rapih begitu pula dengan keluarga mereka. “Anak-anak juga menjadi pembawa pesan yang baik dan efektif bagi orang tuanya,” ujarnya tersenyum meski hinga kini masih banyak rumah yang belum higienis.

Apalagi di sini tidak ada Puskesmas, orang masih pergi ke dukun jika sakit, kadang sembuh kadang malah tambah parah, katanya. Pengobatan ala dukun sangat beraroma magis, ini tidak baik pikir Koly, namun membuka balai pengobatan rasanya juga tak mungkin, butuh dana banyak.  Ia pun mengambil peran sebagai pendoa orang sakit, gratis tinggal minta sama Tuhan katanya. “Banyak orang disembuhkan termasuk para dukunnya,” Koly bersaksi.

Harapan dalam Ketakberdayaan

Sebenarnya desa ini memiliki kekayaan alam yang melimpah, kelapa dan cengkeh tumbuh di bukit-bukitnya, ikan, tripang, dan rumput laut banyak dijumpai di lautnya. Minim pengetahuan tentang eksplorasi dan manajemen sumber daya alam agaknya menjadi kendala serius di sini. Tujuh tahuh sudah kami membangun generasinya dan akan terus demikian hingga satu saat nanti Teremaal mempunyai generasi yang cerdas dan mampu mengelola sendiri hasil bumi mereka, membangun desanya, dan keluar dari daftar panjang IDT pemerintah, ujar Rensius Sinaga, Manager Regional PESAT Sulawesi Utara.

TK Kartini mempunyai dua ruang kelas, dan berdiri di dekat dermaga perahu nelayan tradisional Desa Teremaal. Tidak ada rumah dinas, sehingga ibu gurunya masih menumpang di rumah warga. “Ini salah satu pergumulan kami,”cetus Marice. Delman Koly dan Marice Pandeano kedua guru TK ini telah memberikan hidupnya dengan memainkan peran mereka sebagai kader transformasi desa. Mendukung mereka dan pelayanannya adalah peran kita tentunya. (toni)

Share on Facebook    
   


 
........................................................................................
 
 
TORAJA: Bapak Pendidikan bagi Simbuang

 

 
 
 
 
 
fb Share on Facebook
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.