Bergulat dengan Ketertinggalan
Awal tahun 2003, sebuah lembaga pelayanan kristiani “Pelayanan Desa Terpadu” atau PESAT, berusaha membantu meringankan beban masyarakat desa Teremaal dengan membangun instalasi air bersih dan jamban umum, berbarengan dengan itu juga PESAT mengirimkan kader-kader transformasi desa dan mulai membangun generasi baru di desa tiga dusun ini melalui taman kanak-kanak. TK Kartini, adalah TK pertama di desa ini. “Murid pertama kami semuanya kini sudah duduk di kelas 4 SD, dan tidak ada yang putus sekolah,” ujar Guru TK Kartini Delman Koly.
Tahun ajaran ini kami mendidik 25 anak, dan ini adalah tahun ajaran yang ketujuh, banyak anak-anak dan pola hidup masyarakat yang telah diubahkah melalui TK, lanjutnya. Awal kedatangan kami (2003), kami menemukan masyarakat masih sangat kurang memerhatikan kesehatan. Kebanyakan rumah-rumah di sini masih berlantai tanah, sistem sanitasi yang buruk karena tidak memiliki jamban, kesulitan air bersih karena jauhnya sumber air, bahkan binatang peliharaan seperti babi bebas berkeliaran di dalam rumah, memasak makanan pun berlangsung dalam kondisi yang tidak higienis, jelas Koly.
“Kesehatan tubuh anak sangat kurang diperhatikan orang tuanya, mereka umumnya terserang penyakit kulit dan infeksi cacing yang parah,” kenang Koly. Biar bagaimanapun pembangunan kesehatan harus diutamakan sebelum membangun intelektual anak, karena memang pengaruhnya sangat signifikan. Dalam beberapa hal kami melibatkan peran orang tua dengan memberikan pengetahuan tambahan tentang pola hidup sehat dan kebutuhan gizi anak. Makanya kini, lanjutnya, banyak anak-anak terutama anak TK sudah hidup bersih dan sehat, mereka selalu berpakaian rapih begitu pula dengan keluarga mereka. “Anak-anak juga menjadi pembawa pesan yang baik dan efektif bagi orang tuanya,” ujarnya tersenyum meski hinga kini masih banyak rumah yang belum higienis.
Apalagi di sini tidak ada Puskesmas, orang masih pergi ke dukun jika sakit, kadang sembuh kadang malah tambah parah, katanya. Pengobatan ala dukun sangat beraroma magis, ini tidak baik pikir Koly, namun membuka balai pengobatan rasanya juga tak mungkin, butuh dana banyak. Ia pun mengambil peran sebagai pendoa orang sakit, gratis tinggal minta sama Tuhan katanya. “Banyak orang disembuhkan termasuk para dukunnya,” Koly bersaksi.

Harapan dalam Ketakberdayaan
Sebenarnya desa ini memiliki kekayaan alam yang melimpah, kelapa dan cengkeh tumbuh di bukit-bukitnya, ikan, tripang, dan rumput laut banyak dijumpai di lautnya. Minim pengetahuan tentang eksplorasi dan manajemen sumber daya alam agaknya menjadi kendala serius di sini. Tujuh tahuh sudah kami membangun generasinya dan akan terus demikian hingga satu saat nanti Teremaal mempunyai generasi yang cerdas dan mampu mengelola sendiri hasil bumi mereka, membangun desanya, dan keluar dari daftar panjang IDT pemerintah, ujar Rensius Sinaga, Manager Regional PESAT Sulawesi Utara.
TK Kartini mempunyai dua ruang kelas, dan berdiri di dekat dermaga perahu nelayan tradisional Desa Teremaal. Tidak ada rumah dinas, sehingga ibu gurunya masih menumpang di rumah warga. “Ini salah satu pergumulan kami,”cetus Marice. Delman Koly dan Marice Pandeano kedua guru TK ini telah memberikan hidupnya dengan memainkan peran mereka sebagai kader transformasi desa. Mendukung mereka dan pelayanannya adalah peran kita tentunya. (toni) |