Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Surat Pembaca Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English

 

    Features
 

 

 

Naomie tidak bisa membendung air matanya. Ia  menangis, air matanya bercucuran. Kedua tangannya menyeka pipi kemerahannya yang basah sambil sesegukan. Ia kembali terkenang masa-masa awal merintis pendidikan di sebuah desa terpencil di Sulawesi bagian Utara. Ingat kembali bagaimana ia susah, jatuh-bangun, melalui hari-harinya dengan perjuangan.

naomie datulangi

Usianya belum genap 23 tahun ketika ia tiba di sebuah desa kecil Londoun. Setelah itu ia membuka sebuah taman Kanak-kanak dan mulai mengajar.  Murid pertamanya berjumlah 12 orang. itu pun  tidak hanya dari desa itu, sebagian murid datang dari desa yang jauh. “Anak-anak kecil itu berjalan kaki sejauh 4-5 km menapaki jalan tanah nan berbukit di desa tropis para penghasil kopra ini. Mereka pasti basah keringat ketika tiba, maklumlah matahari disini paling terik, tapi wajah lelahnya segera hilang ketika barisan dibentuk dan mulai nyanyi”.

Keduabelas anak itu bagi saya seperti benih-benih yang akan bertumbuh dan berkembang untuk menghidupkan generasi yang baru. Yang lebih sadar akan pentingnya pendidikan. Mereka adalah 12 anak yang penuh semangat, begitu pun orang tua mereka, dan semangat mereka sungguh membawa pengaruh bagi masyarakat. Ia sendiri seperti tidak tahu bagaimana ibu-ibu mereka yang tidak berpendidikan ini bertindak seolah tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting.

desa terbesih se indonesia
Londoun, desa terbersih ke 2 di Indonesia

Awalnya kepala desa meminjamkan balai desa untuk dipakai kegiatan TK, lalu berpindah-pindah tempat karena belum memiliki bangunan sendiri. Seiring waktu, jumlah anak murid yang ikut terus bertambah, jumlahnya telah mencapai 30 anak ketika TK pindahkan, Naomie meminjam Puskesmas. Tahun kedua,  sudah 40 anak, dan TK kembali harus pindah, kali ini ia hanya dipinjami bekas rumah dinas guru yang sudah usang. “Aku sangat sedih karena kondisi rumah dinas tersebut dindingnya telah lapuk dan lantainya hanyalah puing-puing, tak jarang anak-anak jatuh dan terluka,” Naomie begitu lirih. dari hari-ke hari ia makin prihatin dengan kondisi ini.

Tapi apalah daya, tak kan mungkin berbekal uang bayaran muridnya ia bisa membangun sekolah. Naomie akhirnya coba mengadukan kondisi TKnya ke pemerintah daerah setempat, namun terkesan tutup mata awalnya. Ia lalu pulang dan berdoa. Semakin hari semakin keras berdoa. Tak disangka, Pemda akhirnya mengulurkan tangan, tapi dengan syarat,  TK harus masuk dalam peringkat  10 besar TK terbaik di propinsi.

Ia dan anak muridnya pun lalu  tak berhenti berprestasi, juara berbagai lomba terus disabet dan tak jarang anak-anak TKnya kerap mewakili desa di tingkat kabupaten.  Lulusannya pintar-pintar, aku guru sekolah dasar. Hingga pada suatu siang, tim verifikasi tiba di TKnya dan menyatakan TK Pelita berada di peringkat kelima terbaik.

“Senang bukan main,” bahagia Naomi meledak. “ “Tuhan mampu mengubah air matamu menjadi mata air,” kalimat itu keluar dari mulut ketua tim verifikasi dinas pendidikan Pemda. Naomi hanya terpaku, tak percaya, “Ingin rasanya aku menuliskan kalimat itu  besar-besar di pintu masuk TK..”

   
Balai serbaguna desa, hasil Kamis Membangun    

Membawa Desa Terbersih Nasional
Dana pembangunan sekolah pun turun namun jumlahnya hanya pas untuk pembelian bahan bangunan saja, sementara dana tak tersisa lagi untuk upah tukang. Naomi berpikir untuk melibatkan masyarakat, gotong-royong membangun sekolah.  “Lagi pula jika dilakukan secara swadaya, masyarakat akan merasa turut memiliki,” pikirnya. Hasil musyawarah tokoh adat, Naomi, orang tua murid, dan masyarakat menyepakati bila pembangunan sekolah dikerjakan oleh tiap-tiap keluarga di desa Londoun dan sekitarnya secara bergiliran setiap minggunya. Naomie menamainya “Kamis Membangun”, karena pengerjaannya dilakukan setiap hari Kamis.
Alkisah, gedung TK di tepi jalan menurun dari bukit pun berdiri cantik dan menawan dikelilingi taman bunga, dengan papan nama yang anggun “Selamat datang di TK Pelita Terpadu”.

Setelah itu “Kamis Membangun” menjadi kebiasaan baru di Desa Londoun. Bahkan dengan “Kamis Membangun” pula masyarakat berhasil menyelesaikan gedung serba guna untuk desanya, lalu gapura desa, akhirnya kebiasaan ini membudaya, masyarakat memakai hari Kamis untuk kerjabakti membersihkan desa. Sekian waktu berlalu, karena kebersihannya  nama desa Londoun melambung setelah meraih penghargaan Desa Terbersih kedua Tingkat Nasional. Naomie tak pernah membayangkan ia adalah sosok di balik semua perubahan itu.

TK Pelita Terpadu, Londoun
  
fbShare


 
........................................................................................
 
 
TORAJA: Bapak Pendidikan bagi Simbuang

 

 
 
 
 
 
 
Wisata Misi Mission Trip
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.