Hingga akhirnya 18 Oktober 2011, dihadapan para Sahabat PESAT di Jakarta, diwakili oleh tiga “murid berprestasi” dari sekolah di hutan sana; Isen, Nariati dan Kristin dengan sempurna berhasil menghadirkan kesederhanaan wujud suku mereka.
Kita semua terperangah malam itu, hampir tidak percaya kalau di jaman super canggih ini ada sekelompok manusia yang masih menjalankan kehidupan suku-suku kuno yang memprihatinkan. Mereka tertinggal ratusan tahun silam dari peradaban kita.
Setelah undangan dari Jakarta diterima, tiga anak perempuan ini lalu menjadi orang pertama di sukunya yang melakukan perjalanan paling jauh, lebih dari 2000 kilometer. Mereka juga adalah orang pertama yang naik mobil, lalu orang pertama yang naik pesawat udara, dan orang pertama yang melihat peradaban kota.
Tidak bisa terbayangkan bagaimana takjubnya perasaan mereka ketika mobil membawa mereka dari bandara menuju jantung Jakarta, dan sepanjang jalan disuguhkan oleh pemandangan ribuan mobil, jalan layang, gedung-gedung pencakar langit, kerumunan orang, dll. Mereka seperti baru keluar dari sebuah mesin waktu.
Saat pertama mereka kenal pensil dan huruf, rasanya hampir sama seperti ketika mereka mencoba mengenakan sepatu pertama yang kita berikan. Memberi sepatu kepada Isen dkk hanyalah satu langkah kecil bagi kita, tapi satu langkah raksasa bagi evolusi peradaban Suku Lauje. (toni)
|