Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Surat Pembaca Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English

 

    Features

 

Meski tanpa mesin waktu namun kita telah berhasil membawa mereka ke masa depan..
 

Isen, Nariati, dan Kristin, gadis-gadis kecil berusia 10 tahun ini adalah anak-anak dari suku terasing Lauje di Sulawesi Tengah. Keseharian mereka tentu banyak dihabiskan dipegunungan yang dingin, berkabut, dan jauh dari manapun, berlari telanjang kaki kemanapun mereka ingin pergi.

 

Isen, Kristin, dan Nariati Our Village Our fUTURE

 

Mereka bertiga, seperti semua orang di sukunya, tidak pernah berjumpa dengan teknologi dari peradaban modern seperti yang kita miliki. Jangankan televisi, mereka bahkan belum pernah melihat wajah mereka di dalam cermin!

Orang Lauje akhrinya bisa mengenal banyak hal baru dalam hidup mereka setelah sebuah sekolah didirikan PESAT di tanah leluhur mereka dua tahun silam.

   

Hingga akhirnya 18 Oktober 2011, dihadapan para Sahabat PESAT di Jakarta, diwakili oleh tiga “murid berprestasi” dari sekolah di hutan sana; Isen, Nariati dan Kristin dengan sempurna berhasil menghadirkan kesederhanaan wujud  suku mereka.

Kita semua terperangah malam itu, hampir tidak percaya kalau di jaman super canggih ini ada sekelompok manusia yang masih menjalankan kehidupan suku-suku kuno yang memprihatinkan. Mereka tertinggal ratusan tahun silam dari peradaban kita.

Setelah undangan dari Jakarta diterima, tiga anak perempuan ini lalu menjadi orang pertama di sukunya yang melakukan perjalanan paling jauh, lebih dari 2000 kilometer. Mereka juga adalah orang pertama yang naik mobil, lalu orang pertama yang naik pesawat udara, dan orang pertama yang melihat peradaban kota.

Tidak bisa terbayangkan bagaimana takjubnya perasaan mereka ketika mobil membawa mereka dari bandara menuju jantung Jakarta, dan sepanjang jalan disuguhkan oleh pemandangan ribuan mobil, jalan layang, gedung-gedung pencakar langit, kerumunan orang, dll. Mereka seperti baru keluar dari sebuah mesin waktu.

Saat pertama mereka kenal pensil dan huruf, rasanya hampir sama seperti ketika mereka mencoba mengenakan sepatu pertama yang kita berikan. Memberi sepatu kepada Isen dkk hanyalah satu langkah kecil bagi kita, tapi satu langkah raksasa bagi evolusi peradaban Suku Lauje. (toni)

  
fbShare


 
........................................................................................
 
 
TORAJA: Bapak Pendidikan bagi Simbuang

 

 
 
 
 
 
 
 FUNTRIP TO OUR LOCATION ARROUND INDONESIA
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.