Beberapa waktu kemudian mereka tiba di pedataran yang ditumbuhi alang-alang. Perlahan Suri mulai mengatur nafasnya yang terengah-engah sambil menyeka keringat di wajah. Pandangannya tertuju ke arah rumah kayu besar beratap daun dimana terdapat puluhan anak-anak yang berdiri di depan menatap ke arahnya dengan tak berkedip.
Suri bersama rekan lainnya tinggal di gubuk-gubuk beratap daun dan berdinding anyaman bambu. “Ketika hujan turun, maka air akan dengan deras terjun ke atas balai bambu tempat tidur kami. Kalau sudah begitu, kami hanya bisa mencari sudut-sudut kamar yang tidak bocor, dan duduk sepanjang malam.”
“Kadang dalam duduk menanti hujan berhenti, aku merasa kesepian, lalu rindu rumah,” kenang Suri. Namun homesick itu segera sirna ketika pagi merekah dan sekolah dimulai. Suri menjadi guru di sekolah darurat yang didirikan untuk anak-anak Suku Wana.
Tiga bulan pertama memang amat sulit karena Suri belum menguasai bahasa Wana, perlahan ia mulai belajar, membuat kamus kecilnya sendiri untuk permudah percakapan.
 |
|
|
| Suri sedang mengajar |
|
|
Ibu Guru dari Bulan
Anak-anak ini sangat jorok, tubuh mereka sangat kotor, begitu pun rambut, kuku, dan gigi. Bahkan ingus mereka dibiarkan meleleh hingga mengering. Banyak mereka yang juga berpenyakit kulit. Ketika aku mengajar, anak-anak mulai mengelilingiku, mereka mulai memegang-megang rambutku dan menarik-nariknya, mengelus-elus kulitku, mereka nampak begitu heran melihat aku seakan-akan aku adalah mahluk asing dari bulan, ujar Suri mengisahkan pengalaman pertamanya.
Akhirnya aku tahu keheranan itu karena selama ini mereka tidak pernah melihat sosok "Bu guru", yang mereka tahu hanyalah "Pak guru", bahkan mereka juga memanggilku dengan sebutan "pak guru", lanjut Suri tertawa.
Sejak itu ia selalu menjadi pusat perhatian bagi anak-anak dan remaja putri. Mereka begitu heran melihat rambutku yang lurus dan bersih.
Ketika akan mandi di sungai, mereka sudah berkumpul untuk melihat aku mandi, bagaimana aku membersihkan tubuh dengan sabun, bagaimana aku mencuci rambut dengan shampoo, menyikat gigi. Lalu mereka semua mulai menirukan semua gerakanku, bahkan setiap hal-hal kecil yang aku lakukan. Aku sempat risih juga, namun aku tahu ini adalah proses imitasi, menirukan, jadi aku harus bersikap baik di depan mereka agar mereka juga bisa menirunya.
Bagi remaja putri, aku menjadi kakak mereka, aku mengajarkan bagaimana harus memakai pembalut wanita ketika sedang haid, kami meyediakan stok pembalut setiap bulan untuk mereka. Aku mengajar mereka bagaimana sebaiknya bergaul dengan lawan jenis, dan hal-hal yang pribadi bagi remaja putri.
 |
|
|
| Bersama murid TK |
|
|
Rumah Pohon
Tak hanya mengajar di sekolah, bersama Intan, ia juga pergi mengunjungi gubukgubuk muridnya di hutan, sebagian mereka masih tinggal di atas pohon. “Kami kadang terpaksa harus menginap karena kemalaman atau cuaca buruk". Menginap di rumah Orang Wana sungguh jauh dari kata "nyaman". Rumah mereka adalah gubuk beratap daun yang tidak berdinding, dengan perapian yang menyala di tengahnya. "Kami tidur membujur di atas bambu dengan kaki mendekati perapian, sementara hembusan angin terus menerpa tiada henti, dingin bukan main," kenangnya.
 |
|
 |
| Suri panen keladi (talas) yang kini menjadi makanan sehari-harinya |
|
Rumah pohon Suku Wana |
Permaisuri Saliano
Medan yang berat, iklim yang tidak bersahabat, serta kondisi tempat tinggal yang tidak layak akhirnya menjadi ujian berat baginya. Januari 2007, Suri jatuh sakit. Ia menderita panas tinggi sekaligus menggigil kedinginan, sekujur tubuh meriang, dan kepalanya sakit. Kian hari kondisinya kian mengenaskan, tubuhnya sampai kurus.
Enam Orang Wana mendudukkan Suri di sebuah bangku kayu yang diikatkan di atas tandu. Mereka lalu mengangkat Suri dan membawanya turun gunung dengan berlari. Hujan terus turun hari itu, jalur setapak yang dilalui pun amat licin. "Maut seperti sudah siap menjemputku," kenang Suri. Kelompok yang melarikan tandu itu dipimpin oleh Sofyan Panjo, seorang pemuda Suku Wana. "Aku bagaikan permaisuri dalam film-film kungfu," tambahnya sambil tertawa. Tiba di rumah sakit, dokter bilang aku kena tifus, terlambat sehari saja akan tidak tertolong. Tetapi, Tuhan Yesus menunjukkan kasih-Nya kepadaku.
Sebulan kemudian ia sembuh, lalu kembali lagi mengajar anak-anak Wana di Saliano. Tekadnya tetap kuat. Kerinduannya untuk melayani anak-anak Wana selalu menggebu-gebu.
 |
|
|
| Suri bersama para muridnya |
|
|
Saya rindu suatu saat nanti bisa melihat anak-anak Wana yang saya didik menjadi orang sukses dan menjadi berkat bagi orang lain,” tambahnya mengakhiri percakapan pada suatu senja berangin di desa Lalow. (toni)
|