makanya sebulan sekali ia harus ke kota untuk mengakses internet melalui warnet agar bisa berinteraksi dengan ‘kampus’nya.S
Sekembalinya, ia kaget bukan kepalang melihat sekolah telah beralihfungsi menjadi tempat tinggal para pengerja projek. “Semua perlengkapan TK dan barang pribadi saya mereka taruh di luar,” lapor ibu guru ini panik. Padahal, ini adalah rumah milik desa yang telah disepakati masyarakat dan kades untuk dipakai kegiatan TK, karena di dusun ini yayasannya belum memiliki bangunan sendiri. Memang di pedalaman sini pendidikan terkadang di nomorduakan, tegas Tina protes.
PARA SINGLE FIGHTERS
Yayasan PESAT (Pelayanan Desa Terpadu) mengirimnya ke sini sejak Januari 2003, Di Momi Waren TK dan PAUD-nya tersebar di lima dusun dan hanya dilayani oleh tiga orang ibu guru. “Keterasingan tempat, membuat hanya sedikit guru yang bertahan,” ujar Tina. Kini Tina bersama Arnie dan Tarmi, dua rekan guru lainnya yang masih bertahan, harus berbagi tugas melayani anak-anak. Ia kebagian mengajar di dua dusun; TK Narwastu di pagi hari lalu setelah istirahat makan siang, ia segera menuju PAUD Lecmera Misen mengajar dari petang hingga matahari tenggelam.
 |
|
 |
sungai orinsbari dikala kemarau, dilintasi |
|
|
Jarak antar kedua tempat itu sekitar 8 KM, melewati hutan dan sabana yang sepi tak berpenghuni. Suatu tantangan tersendiri bagi gadis sepertinya. Ia sering menghadapi hal-hal tak terduga. Pernah sekali mau dipanah orang, pernah mengalami ban kempis dan frustrasinya mendorong sepeda motor berkilo-kilo meter, pernah dalam kesendiriannya ia ditemani hujan besar dan angin kencang yang menghadangnya sepulang mengajar, pernah sekali waktu pohon tumbang menutup jalan, “Hujan, gelap, saya hanya bisa mematahkan ranting-ranting dengan tangan karena tidak mempunyai parang, sekadar mendapat celah untuk lewat karena menarik batang pohon takkan sanggup,” kisahnya.
Disini malaria sangat endemik, aku beberapa kali kena dan hampir mati. Tidak ada dokter, seorang suster kampung coba menolong, tapi sayang suntikannya overdosis dan tubuh saya menjadi biru. “Kalau bukan karena Tuhan pasti saya tidak bertahan.” Sembuh dari malaria kini ia bermasalah dengan lambungnya dan ada benjolan di leher. “Aku belum bisa periksa dokter, karena belum ada biaya,” ujarnya kalem.
ANTUSIAS DAN MATI MUDA
Distrik Momi Waren dihuni oleh orang-orang Suku Sough, masyarakat asli Mandacan yang datang dari daerah-daerah di Pegunungan Arfak di atasnya. Sebenarnya, masyarakatnya sangat antusias pada pendidikan ketika Tina dan teman-teman datang dan mengajar mereka. “Mereka ingin tahu pendidikan itu seperti apa,” ujar Tina. Makanya, pembangunan TK Narwastu di dusun ini dilakukan secara gotong-royong. Aku mengawasi dan mengatur orang-orang untuk membangun TK, “Ada yang bagian angkat pasir dari kali, ada yang mencetak batu..”
| Selama pelayanannya banyak anak telah dididiknya dan bisa terus melanjutkan sekolah, dan kini banayak yang telah duduk di SMP. Hal ini tidak mudah karena berbenturan dengan kebiasaan mereka yang kadang pindah tempat tinggal, lalu tidak sekolah, bahkan menikah di usia 10 tahun. “Aku sangat berharap TK juga bisa menekan jumlah perkawinan usia dini dan tingginya angka mati muda,” Orang di sini gampang sakit dan gampang mati, ia melanjutkan. |
|
 |
mengajar anak cinta Tuhan |
Dalam mengajar ia sangat serius, “Aku marah jika ada guru yang mengajar anak-anak secara asal-asalan.” Selama pelayanannya banyak anak telah dididiknya dan bisa terus melanjutkan sekolah, dan kini banayak yang telah duduk di SMP. Hal ini tidak mudah karena berbenturan dengan kebiasaan mereka yang kadang pindah tempat tinggal, lalu tidak sekolah, bahkan menikah di usia 10 tahun. “Aku sangat berharap TK juga bisa menekan jumlah perkawinan usia dini dan tingginya angka mati muda,” Orang di sini gampang sakit dan gampang mati, ia melanjutkan. Dalam mengajar ia sangat serius, “Aku marah jika ada guru yang mengajar anak-anak secara asal-asalan.”
Tidak hanya anak-anak, orang-orang tua pun begitu antusias ikut belajar baca-tulis dalam program keaksaraan fungsional (pemberantasan buta huruf). Meski sangat sulit pada awalnya, “Mereka pegang pensil saja seperti pegang kayu,” namun beberapa waktu kemudian sekitar 20 orang sudah bisa membaca dan menulis. “Setidaknya itu adalah modal awal mereka bisa baca Alkitab,” ujar Tina.
MAKAN DAUN SINGKONG
| Sudah berbulan-bulan belakangan ini ia belum menerima honor dan biaya operasional dari yayasan. Meski berjalan terseok-seok ia tetap gigih berjuang melayani anak-anak. Dan kesulitannya semakin terasa disaat biaya keperluan kuliahnya tak bisa ditunda. “Untuk beli buku, untuk ongkos ke kota mengirim tugas, sungguh terasa berat buatku, untungnya Mamaku membantu sedikit-sedikit menyisihkan hasil kebunnya dan mengirimi aku.” |
|
 |
Tina bersama teman di Pantai Momi |
|
| Tapi untuk makan sehari-hari Tina memanfaatkan daun singkong yang ia tanam di samping rumah, jarang makan nasi, lebih banyak pisang. Menu kesehariannya terpaksa mengikuti menu lokal untuk menekan biaya hidupnya demi menyiasati kelangkaan dana yang dialami. |
 |
|
|
Tina bersama anak-anak PAUD di Lecmera Misen |
|
|
Menghubungi Tina melalui telepon selularnya terbilang sulit, karena tidak semua titik di sini yang mendapat sinyal. Namun, keterasingan tempat yang minim fasilitas dan penuh resiko, bahkan minim dukungan ini tak lantas menyurutkan tekadnya. “Saya bingung juga, kalau pergi ke tempat lain seperti tidak betah, segera ingin kembali ke sini, saya pikir sudah gila, tapi mungkin ini panggilan.. Hatiku selalu untuk Momi Waren.” Katanya mengakhiri. Tina mempunyai harapan supaya Orang Soug di Momi Waren dapat keluar dari tempurung kebodohan. “Agar mereka tidak mudah dibodohi,”ujar Tina semangat. (toni)
|