| |
| Jenni Farida; |
| Fisikawati yang Jatuh Hati pada Mentawai |
| |
 |
“Hanya suara debur ombak dan tiupan angin di menara-menara gereja, tapi aku senang, keterpencilan Mentawai tidak membuatku terisolasi, akan kubuat pulau-pulau tropis ini dinamis..”
Dara hitam manis kelahiran Medan 26 tahun yang lalu ini adalah seorang sarjana pendidikan fisika. Jenni Farida namanya. “Panggil saya Jenni,” katanya bersahabat. Awalnya tak sangka ia berasal dari luar Mentawai, Jenni begitu akrab dikenal oleh penduduk di dusun-dusun Mentawai.
Kesupelannya dan hal-hal berdampak positif yang ia kerjakan bagi perubahan desa membuat lajang jebolan Fakultas Ilmu Pasti Alam UNIMED tahun 2007 ini sangat diterima masyarakat. Terang saja ketika tiba di Mentawai sekitar dua tahun yang lalu, ia mencari para perempuan muda dan ibu rumah tangga, memotivasi mereka, lalu melatihnya dalam sebuah training singkat guru TK lewat program pelatihan intensif selama 4 bulan yang diselenggarakan Sentra Pelayanan Yayasan PESAT cabang Mentawai.
Tak tanggung-tanggung, bersama staf pengajar lainnya, ia melatih 53 perempuan lokal untuk menjadi guruTK. “Saya kebagian mengajar mata kuliah Psikologi Anak dan Karakter Guru, turut memuridkan mereka agar sukses menjadi guru TK yang berkarakter baik,” paparnya lugas. Sekarang, 30 orang dari mereka sudah tamat dan mengajar di TK-TK di seluruh Kepulauan Mentawai, di Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan, tambahnya.
| |
|
| |
Jenni bersama guru TK hasil pelatihannya di depan TK yang dirintis di pedalaman Mentawai |
Suka-dukanya melatih penduduk dusun sampai menjadi guru? Aduh, seru sekali, Jenni bercerita, mereka itu kan semuanya bukan lulusan sekolah formal, tapi hanya ikut Paket C lalu ujian persamaan, jadi mengajar mereka itu tidak seperti mahasiswa tapi lebih mirip mengajar anak SMP atau SD, harus penuh kesabaran, ujar Jenni sambil tersenyum mengingat kembali perjuangannya dan rekan pengajar lainnya. Tapi puji Tuhan kita semua berhasil, lanjutnya.
Bahkan, tidak sebatas melatih penduduk lokal menjadi guru TK, Jenni juga merintis dua TK di Pulau Pagai Utara, yakni di dusun Muarataikako dan Bulakmonga yang kini diajar oleh guru-guru hasil pelatihannya. “Memberi kesempatan bagi masyarakat local untuk membangun desanya sendiri,” ucap Jenni lugas.
 |
| |
Dunia Tersendiri
Hampir seluruh Kepulauan Mentawai telah dijelajahinya, ia tinggal di dusun-dusun yang sangat terpencil yang tidak memiliki akses transportasi dan komunikasi yang baik. “Kemanapun kita pergi di sini pasti lewat laut, dan tempat-tempat yang saya datangi tidak ada sinyal telepon selular, aku tinggal di rumah-rumah berdinding bambu dan beratap daun, makan keladi, pisang dan ikan sama seperti Orang Mentawai,” Jenni bercerita. Disini aku seperti memiliki duniaku sendiri, jauh dari dunia modern dan hingar-bingar kota, yang ada hanya suara debur ombak dan tiupan angin di menara-menara gereja, lanjutnya. “Tapi aku senang,” ucapnya tiba-tiba. Keterpencilan Mentawai tidak lantas membuatnya merasa terisolasi, justru ia ingin membuat pulau-pulau tropis yang statis ini jadi dinamis.
Harapan Mentawai
Senja itu angin bertiup cukup kencang, Jenni masih melangkah di hamparan pasir pantai yang putih bersih, syal-nya melambai-lambai ditiup angin laut, sesekali pandangannya dilempar jauh ke lautan meski tak setitik daratan pun tampak di sana. Hal yang paling berkesan baginya adalah melatih perempuan-perempuan Mentawai yang tidak mengecap bangku sekolah formal itu hingga bisa menjadi guru TK yang handal. “Satu hal luar biasa yang Tuhan kerjakan melalui kami,” katanya. Bertolak dari hal itu Jenni sangat ingin melihat Orang Mentawai, generasi penerusnya banyak yang pergi sekolah dan memajukan bangsanya. (ton11/2010) |
| |
 |
| |
| >> Kisah dari Krayan |
Ketika semua orang berebut mencari karier di kota, perempuan-perempuan muda ini justru pergi ke pedalaman mendedikasikan hidup mereka membangun generasi.
ADIL VINA
Adil Vina lahir di Praya pada 1968, dan baru saja berulang tahun ke 28 ketika pada 1997 ia tiba di Krayan.. Desa terpencil di Nunukan, Kalimantan Timur. Transportasi ke sana hanyalah pesawat udara jenis twin-otter, jauh dari manapun dan terisolasi. |
|
 |
| |
Adil Vina |
Vina, sapaannya, mengajar di SMA pertama yang dibuka di sana. Berbagai hal unik, menarik, dan mengejutkan segera ia jumpai di sana kala itu. Di SMA Krayan Terpadu, salah satu sekolah milik yayasan PESAT, Vina mengajar Ekonomi dan Biologi. Lho, kok bisa begitu? “Ya, kekurangan tenaga pengajar mengharuskan kita seperti itu,” ucap jebolan S-1 IKIP Mataram ini.
Ketika ditanya apa sih bedanya mengajar di kota dengan mengajar di pedalaman? Ia menjawab, “Tingkat pemahaman (murid) nya berbeda, karena pada tingkat pendidikan di bawahnya (SD, SMP) mereka hanya mendapat pengetahuan alakadarnya, dan masuk jenjang SMA hanya bermodal bisa baca-tulis saja.” Lalu budaya “terima apa adanya” juga berperan menghambat kemajuan mereka; ketika guru menjelaskan dan kemudian meminta mereka untuk bertanya, maka semuanya akan diam. Perlu trik tersendiri untuk mengajar mereka.
 |
| Adel Vina sedang mengajar di lab fisika |
|
|
Saat di pedalaman, kita sangat sedikit mendapat pengetahuan-pengetahuan baru tentang pola pengajaran. “Setelah sekian tahun kita tetap mengajar dengan pola lama, sementara dunia pendidikan itu kan (sebenarnya) terus berkembang..” ujarnya, makanya ia ingin sekali ke kota dan mengikuti pelatihan-pelatihan metode mengajar terbaru sehingga ia bisa meng-up date rekan-rekan guru lainnya. |
Datang ke daerah yang asing dan berbeda tentu memiliki tantangannya sendiri, ini sungguh ia alami ketika bertemu ular besar di depan pintu kelas, menemukan tiang bendera yang raib, dan papan nama sekolah yang tiba-tiba terbalik. “Itu cuma karena respons negatif karena kecurigaan akibat ketidaktahuan,” katanya yakin. “Akhirnya mereka yang curiga itu malah menyekolahkan anak-anak mereka di sini,” lanjut Vina tertawa.
Sarjana tapi mau ke pedalaman, mengapa?, “Saya cinta anak-anak dan Tuhan, jadi saya ingin membagikan pengetahuan kepada generasi muda di pedalaman,” jawabnya. Ketika ditanya apa harapannya ke depan, ia bilang,”Saya tidak tahu sampai berapa lama lagi akan berada di Krayan, tapi saya masih mencoba melakukan terobosan dalam pengajaran, agar mereka menjadi generasi muda yang bisa membangkitkan generasi di desanya.” Dra. Adil Vina telah tiga belas tahun menghabiskan usia mudanya mengabdikan diri membangun generasi di pedalaman.
YEMIMA ABIGAEL
| Bersama Vina juga ada Yemima, guru di dekade berikutnya, Mima, sapaan akrabnya datang ke Krayan pada 2007, usianya baru 24 tahun waktu itu. Yemima lahir dan bertumbuh di kota Berastagi di Sumatera Utara, lalu menyelesaikan S1 Kimia/Akta-4 di FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU). |
|
 |
| |
|
Yemina dan seorang siswinya |
Sebenarnya ia sudah memiliki pekerjaan yang bagus di Medan selepas kuliah, namum setelah seseorang berbagi dengannya mengenai pendidikan di daerah terpencil, hasratnya untuk turut melayani pun tumbuh dan semakin besar. “Panggilan untuk itu kian hari kian kuat,” ucap Yemina mengawali ceritanya. “Akhirnya saya pun meninggalkan pekerjaan, Kota Medan, dan zona kenyamanan saya untuk datang ke Krayan,” lanjutnya. Ia lalu mengajar mata pelajaran Kimia, Fisika, dan Sejarah di SMA Krayan Terpadu.
Ketika mengajar Kimia, saya sampai menangis. Belajar kimia itu kan melibatkan matematika, lanjutnya, sedangkan murid-muridnya masih sangat sulit dalam pengurangan, penjumlahan, pengalian dan pembagian. Di awal saya berpikir bagaimana bisa belajar kimia jika perhitungan saja tidak bisa? Lalu saya fokus pada cara agar mereka bisa matematika, dan ini cukup membuat saya depresi. Waktu ujian hasilnya nol, saya jadi berpikir benarkah panggilan ini? Lalu kenapa tidak berdampak? Saya hampir putus asa, tapi teman-teman menguatkan, dan akhirnya kini saya malah menikmati mengajar.
.  |
| |
|
Siswa SMAK Krayan Terpadu pegi sekolah |
| Pekerjaan yang dilakukan Yemima terbilang unik karena tidak semua orang bisa melakukannya, begitu pun berbagai hal yang dialaminya. “Saya menyusuri sungai-sungai di pedalaman hutan yang masih perawan untuk pergi ke desa-desa, naik perahu, makan daging Beruang, berjalan kaki sangat jauh sampai kuku kaki terlepas, tapi saya menikmatinya” kenangnya ceria. |
|
 |
| |
|
SMAK Krayan Terpadu, tempatnya mengajar |
Semua ini sangat ia syukuri karena baginya Tuhan telah memberikan kesempatan kepadanya untuk mempersiapkan satu generasi yang takut akanTuhan melalui pemuridan, “Saya mungkin belum bisa melihat hasilnya saat ini, tetapi saya sudah melakukan bagian saya, biarlah Tuhan yang mengerjakan sisanya, saya pikir itulah pencapaian terbesar saya,” ucapnya mengakhiri.
Dra. Adil Vina dan Yemima Abigael, S.Si serta rekan-rekan sepelayanan lainnya telah mempersembahkan buah sulung dengan memberikan masa muda mereka membangun generasi di pedesaan Indonesia. Adalah suatu kebanggaan bagi kita untuk rurut mendukung mereka. (toni)
 |
| Krayan, dilihat dari udara. PHOTO: TONI (C)2007 |
|
|
Share |
|
|