Vina, sapaannya, mengajar di SMA pertama yang dibuka di sana. Berbagai hal unik, menarik, dan mengejutkan segera ia jumpai di sana kala itu. Di SMA Krayan Terpadu, salah satu sekolah milik yayasan PESAT, Vina mengajar Ekonomi dan Biologi. Lho, kok bisa begitu? “Ya, kekurangan tenaga pengajar mengharuskan kita seperti itu,” ucap jebolan S-1 IKIP Mataram ini.
Ketika ditanya apa sih bedanya mengajar di kota dengan mengajar di pedalaman? Ia menjawab, “Tingkat pemahaman (murid) nya berbeda, karena pada tingkat pendidikan di bawahnya (SD, SMP) mereka hanya mendapat pengetahuan alakadarnya, dan masuk jenjang SMA hanya bermodal bisa baca-tulis saja.” Lalu budaya “terima apa adanya” juga berperan menghambat kemajuan mereka; ketika guru menjelaskan dan kemudian meminta mereka untuk bertanya, maka semuanya akan diam. Perlu trik tersendiri untuk mengajar mereka.
 |
| Adel Vina sedang mengajar di lab fisika |
|
|
Saat di pedalaman, kita sangat sedikit mendapat pengetahuan-pengetahuan baru tentang pola pengajaran. “Setelah sekian tahun kita tetap mengajar dengan pola lama, sementara dunia pendidikan itu kan (sebenarnya) terus berkembang..” ujarnya, makanya ia ingin sekali ke kota dan mengikuti pelatihan-pelatihan metode mengajar terbaru sehingga ia bisa meng-up date rekan-rekan guru lainnya. |
Datang ke daerah yang asing dan berbeda tentu memiliki tantangannya sendiri, ini sungguh ia alami ketika bertemu ular besar di depan pintu kelas, menemukan tiang bendera yang raib, dan papan nama sekolah yang tiba-tiba terbalik. “Itu cuma karena respons negatif karena kecurigaan akibat ketidaktahuan,” katanya yakin. “Akhirnya mereka yang curiga itu malah menyekolahkan anak-anak mereka di sini,” lanjut Vina tertawa.
Sarjana tapi mau ke pedalaman, mengapa?, “Saya cinta anak-anak dan Tuhan, jadi saya ingin membagikan pengetahuan kepada generasi muda di pedalaman,” jawabnya. Ketika ditanya apa harapannya ke depan, ia bilang,”Saya tidak tahu sampai berapa lama lagi akan berada di Krayan, tapi saya masih mencoba melakukan terobosan dalam pengajaran, agar mereka menjadi generasi muda yang bisa membangkitkan generasi di desanya.” Dra. Adil Vina telah tiga belas tahun menghabiskan usia mudanya mengabdikan diri membangun generasi di pedalaman.
YEMIMA ABIGAEL
| Bersama Vina juga ada Yemima, guru di dekade berikutnya, Mima, sapaan akrabnya datang ke Krayan pada 2007, usianya baru 24 tahun waktu itu. Yemima lahir dan bertumbuh di kota Berastagi di Sumatera Utara, lalu menyelesaikan S1 Kimia/Akta-4 di FMIPA Universitas Sumatera Utara (USU). |
|
 |
| |
|
Yemina dan seorang siswinya |
Sebenarnya ia sudah memiliki pekerjaan yang bagus di Medan selepas kuliah, namum setelah seseorang berbagi dengannya mengenai pendidikan di daerah terpencil, hasratnya untuk turut melayani pun tumbuh dan semakin besar. “Panggilan untuk itu kian hari kian kuat,” ucap Yemina mengawali ceritanya. “Akhirnya saya pun meninggalkan pekerjaan, Kota Medan, dan zona kenyamanan saya untuk datang ke Krayan,” lanjutnya. Ia lalu mengajar mata pelajaran Kimia, Fisika, dan Sejarah di SMA Krayan Terpadu.
Ketika mengajar Kimia, saya sampai menangis. Belajar kimia itu kan melibatkan matematika, lanjutnya, sedangkan murid-muridnya masih sangat sulit dalam pengurangan, penjumlahan, pengalian dan pembagian. Di awal saya berpikir bagaimana bisa belajar kimia jika perhitungan saja tidak bisa? Lalu saya fokus pada cara agar mereka bisa matematika, dan ini cukup membuat saya depresi. Waktu ujian hasilnya nol, saya jadi berpikir benarkah panggilan ini? Lalu kenapa tidak berdampak? Saya hampir putus asa, tapi teman-teman menguatkan, dan akhirnya kini saya malah menikmati mengajar.
.  |
| |
|
Siswa SMAK Krayan Terpadu pegi sekolah |
| Pekerjaan yang dilakukan Yemima terbilang unik karena tidak semua orang bisa melakukannya, begitu pun berbagai hal yang dialaminya. “Saya menyusuri sungai-sungai di pedalaman hutan yang masih perawan untuk pergi ke desa-desa, naik perahu, makan daging Beruang, berjalan kaki sangat jauh sampai kuku kaki terlepas, tapi saya menikmatinya” kenangnya ceria. |
|
 |
| |
|
SMAK Krayan Terpadu, tempatnya mengajar |
Semua ini sangat ia syukuri karena baginya Tuhan telah memberikan kesempatan kepadanya untuk mempersiapkan satu generasi yang takut akanTuhan melalui pemuridan, “Saya mungkin belum bisa melihat hasilnya saat ini, tetapi saya sudah melakukan bagian saya, biarlah Tuhan yang mengerjakan sisanya, saya pikir itulah pencapaian terbesar saya,” ucapnya mengakhiri.
Dra. Adil Vina dan Yemima Abigael, S.Si serta rekan-rekan sepelayanan lainnya telah mempersembahkan buah sulung dengan memberikan masa muda mereka membangun generasi di pedesaan Indonesia. Adalah suatu kebanggaan bagi kita untuk rurut mendukung mereka. (toni)
 |
| Krayan, dilihat dari udara. PHOTO: TONI (C)2007 |
| |
Share |
|