Home Tentang PESAT Kerjasama Dukung Kami Surat Pembaca Hubungi Kami
Language Selection
Switch to English

 

    Features
 

Mengunjungi TK-TK PESAT di Jawa Tengah bagai suatu perjalanan adventurer saja; menapaki trek-trek pegunungan dan meluncur ke pesisir laut.. Mereka tidak berada di pusat-pusat kota, karena memang dihadirkan untuk menjangkau generasi yang terlewatkan.

-------------------------------

Sebut saja TK PNIEL di dukuh Celengan, dari depan kelasnya saja, membentang cakrawala berpanorama indah; permukaan danau Rawapening di Ambarawa yang dikelilingi gugusan bukit nan membiru dari kejauhan. Lumayan melelahkan mendaki tanah yang semakin menanjak menuju ke TK PNIEL. TK yang telah berdiri sejak 1988 di tengah-tengah pedukuhan yang dihuni para petani jagung dan buruh perkebunan. Hasil pas-pasan dan upah super minim yang selalu kurang bagi para penduduknya tentu tak akan membuat mereka bermimpi tentang pendidikan yang baik atau menggantungkan cita-cita setinggi langit bagi anak-anak mereka.

 

TK PNIEL berjuang mengurangi angka 70% dari total populasi yang berlabel “tidak sekolah”. Tapi itu duapuluh tahun lalu, kini generasi mudanya sudah semakin sadar pendidikan, rata-rata orang Celengan usia produktif telah bersekolah.

 

TK TRIDAMARSARI

 

 Ini semua tentunya karena “kesempatan” yang sengaja kita buka, yang di dalamnya adalah paket berisi pendidikan berkualitas, dengan biaya super murah, motivasi minat belajar, dan kesadaran akan arti penting pendidikan bagi anak-anak dusun yang akrab dipandang sebelah mata.

Membangun generasi memang memakan waktu yang lumayan lama,  tenaga yang lumayan banyak, sikap optimis, kegigihan, dan kesabaran, tidak seperti legenda Rawapening yang mengubah desa menjadi danau hanya dalam sekejap. Hingga kini PESAT telah mengirim 25 pengajar silih berganti ke TK ini, dan berhasil membangunkan 500an generasi baru yang well educated dan berkarakter.

Membangun generasinya, tentu wajah desanya pun berubah, “Pokoknya semua di sini berubah menjadi lebih baik,” ucap Tuti (32), seorang mantan kepala TK PNIEL yang kini sedang membangun pelosok lain di Indonesia. Hal senada pun terjadi di titik-titik lain di wilayah pegunungan ini, seperti TK Tridamarsari di dusun Purwosari, Boyolali; pendakian ke dusun ini pun lumayan berat. TK yang bangunannya berbentuk rumah joglo berdinding kayu ini pun menjadi satu-satunya TK di sini. Meski ruang kelas dan halaman bermainnya masih berlantai tanah, toh ia telah menjadi kebanggaan masyarakat sekitar, menjadi suatu symbol dari generasi baru yang berpendidikan yang penuh impian dan cita-cita.

Di wilayah perbukitan dan pesisir, sulitnya transportasi dan akses masuk tentu selamanya akan membuat desa-desa ini tetap begitu-begitu saja. Tidak ada kepentingan ekonomi dan bisnis di sini dan orang pun enggan untuk mengunjunginya. Desa-desa ini seperti memiliki dunianya sendiri, mereka pun menghasilkan generasi yang tertinggal, kesepian, bosan, dan tidak semangat. Hingga suatu ketika TK-TK dibuka di sana; TK Lentera Kasih di desa tertinggi Boyolali, TK Bethesda di Sumogawe, TK Efata di Samirono, TK Imanuel di Sumowono, hingga menuju ke laut; TK Pelita Hati di ujung Jepara.

Kedatangan TK ke desa-desa ini bagaikan membawa api yang mampu membakar semangat dan memutar roda dinamika desa yang lama tertidur. Kebanyakan mereka kaget saat pertama kali mendengan kata “sekolah” atau “pendidikan”. Hal ini sungguh terjadi ketika pada tahun 1993 TK Bethesda pertama kali launching di desa Sumogawe, “Hari itu masyarakat desa tumpah ruah memadati TK. Mereka ingin tahu seperti apa sih ‘sekolah’ itu?” cerita Murdani (40), mantan Supervisor TK wilayah Jawa. Penduduk dusun ini bahkan hanya tahu memasak makanan hanya dengan cara merebus saja, lanjutnya, tapi kini tidak ada lagi yang buta huruf!

Membangun anak, membangun masyarakat dan bangsa sebenarnya tidak melulu harus di perkotaan dimana segala sesuatunya terlihat mata, terliput media dan tak kan terlewatkan. Tapi membangun bangsa dimulai dari membangun pendidikan anak-anak di pedesaan yang cenderung terabaikan karena sulit (mungkin enggan) untuk dijangkau, bukanlah satu pandangan yang keliru. Belum terlambat bagi kita untuk mengalihkan pandangan ke desa, karena lebih dari separuh penduduk negeri ini memang tinggal di sana. Jadi, jangan sampai ada anak yang terlewatkan! (toni)

Share on Facebook    
     


 
........................................................................................
 
 
TORAJA: Bapak Pendidikan bagi Simbuang

 

 
 
 
 
 
 
 FUNTRIP TO OUR LOCATION ARROUND INDONESIA
 
 
 
Copyright © 2008 PESAT. All rights reserved.