Pejuang Tangguh
Perjalanan TK Anugerah melintasi waktu sungguh penuh perjuangan. Berjalan terseok melawan riak-riak stereotyping akibat keterlanjuran labelisasi yang menghasilkan sikap curiga terhadap kebudayaan lain dari luar kelompok masyarkat di desa ini. Kecurigaan terhadap seorang Hermin Rambakila (33) sang guru, dan kebudayaan (baca: pendidikan) yang dibawanya, mengawali satu kisah perjalanan hidup seorang pelayan pendidikan di desa terpencil.
Tak kenal maka tak sayang. Pepatah kita mengatakan. Bertolak dari situ Ibu Guru Hermin berusaha untuk dikenal secara pribadi oleh tiap-tiap orang di desa. Ia selalu terlibat dan mengambil peran dalam setiap kegiatan desa, mulai dari PKK sampai acara adat. Ia beradaptasi dengan berbagai cara, berempati, menolong, menjadi kabar baik bagi orang desa, selalu berusaha bersahabat meski status keterterimaannya berjalan amat lamban. Ia tetap tegar dan panjang sabar meski cibiran kerap meradang.
Satu, dua, tiga tahun berlalu. Akhirnya waktu jualah yang menjawab semuanya. Memasuki tahun keempat ia disana, 20 anak mendaftar ke TKnya. Lonjakan yang luar biasa, dari 8 dan 10 anak di tahun-tahun ajaran sebelumnya. “Ini semua adalah kekuatan doa,” ucapnya merendah. “Aku sering bersepeda keliling desa sambil berdoa, mendoakan supaya Tuhan memberkati desa ini,” lanjutnya, dan sepeda ontel miliknya adalah juga buah dari pergumulan doanya.

|
Hermin adalah lulusan diploma pendidikan guru TK ketika pada tahun 2004 ia datang ke sini. Sebuah desa terpencil yang sangat susah air bersih saat kemarau. |
| Perjuangan gigihnya mendidik anak-anak akhirnya berbuah pengakuan masyarakat dan lembaga pendidikan di atasnya. Lulusan TK Anugerah selalu berkarakter baik dan kerap menjadi juara kelas, ungkap guru-guru SD di sana. Bahkan melampaui semua prestasi formal tersebut, semua orang desa kini selalu tersenyum hangat padanya. Hari-hari mereka kini penuh keakraban dan saling peduli. Mereka bergotong-royong memperbaiki dapur yang hampir roboh dan membuatkan jamban untuk bu guru. Balas berkunjung dan merasa bangga memiliki TK sehebat ini di desa mereka. |
Kaya Ide
Hermin yang lajang ini pun melanjutkan kisahnya, satu masalah terpecahkan masalah lain menanti. Bayaran sekolah bulanan cuma Rp. 13.000,- per anak, meski demikian masih ada orang tua yang nunggak bahkan tidak mau bayaran. “Sebagian ortu masih kurang perhatian terhadap pendidikan pra-sekolah, sementara beberapa berfikir TK harus gratis seperti SD negeri,” keluh Hermin. Uang bayaran ia pakai untuk biaya operasional TK, seperti pengadaan buku, alat tulis, serta beragam alat bantu mengajar dan permainan. Mustahil memang untuk bisa mencukupi itu semua hanya dari uang bayaran anak-anak. Kreatifitasnya bangkit, ia dan Hasnah rekan guru lainnya menggunakan biji karet dan batu kerikil untuk mengajar berhitung serta daun pisang yang digunting-gunting untuk mengajar berbagai bentuk pada anak TKnya.
Akhir yang Manis
Ada pertemuan ada pula perpisahan, Tuhan selalu bekerja dengan waktu, dan kairos itu tiba tepat di tahun kelima perjuangan Hermin untuk ada di hati orang Komering dengan membangun generasi mereka yang berpendidikan. Anak-anak tahu kalau hari itu adalah saat terakhir Bu Hermin berdiri di depan kelas dan bernyanyi bersama mereka, “Ibu jangan pergi yaa..,” anak-anak merajuk. Di halaman sudah menanti ibu-ibu, mereka satu per satu merangkul bu guru sambil berlinang air mata. “Terima kasih sudah mendidik anak kami ya…,” teriak seorang ibu sambil melambaikan tangan ke arah minibus yang melaju perlahan meninggalkan desa.. Hermin Rambakila, pejuang pendidikan, mengakhiri pengabdiannya di Komering dengan manis. Perannya mendidik anak-anak Komering kini dilanjutkan oleh Hasnah dan Puji rekan guru lainnya. (toni)
| |
|
 |
| |
|
Bangunan mirip gubuk TK Anugrah |
Akhir yang Manis
Ada pertemuan ada pula perpisahan, Tuhan selalu bekerja dengan waktu, dan kairos itu tiba tepat di tahun kelima perjuangan Hermin untuk ada di hati orang Komering dengan membangun generasi mereka yang berpendidikan. Anak-anak tahu kalau hari itu adalah saat terakhir Bu Hermin berdiri di depan kelas dan bernyanyi bersama mereka, “Ibu jangan pergi yaa..,” anak-anak merajuk. Di halaman sudah menanti ibu-ibu, mereka satu per satu merangkul bu guru sambil berlinang air mata. “Terima kasih sudah mendidik anak kami ya…,” teriak seorang ibu sambil melambaikan tangan ke arah minibus yang melaju perlahan meninggalkan desa.. Hermin Rambakila, pejuang pendidikan, mengakhiri pengabdiannya di Komering dengan manis. Perannya mendidik anak-anak Komering kini dilanjutkan oleh Hasnah dan Puji rekan guru lainnya. (toni)
 |
|
|
| Hermin (tengah) bersama dua rekan guru.. |
|
|
|