Guru dari 62 murid ini tidak bisa membendung air matanya ketika ia kembali terkenang masa-masa awal merintis TK Pelita hingga menjadi terang di desa Londoun. Usianya belum genap 23 tahun ketika tiba di desa kecil di pelosok Sulawesi bagian utara itu.
Muridnya tidak hanya dari desa di sekitar TK, tapi sebagai satu-satunya TK di sana, sebagian murid pun datang dari desa yang jauh. Anak-anak usia balita itu pun berjalan kaki sejauh 4-5 km menapaki jalan bebukit di desa tropis petani kopra ini.
|
|
 |
| |
Anak-anak TK Pelita Terpadu. |
.“Mereka basah keringat ketika tiba, tapi wajah lelahnya segera hilang ketika barisan dibentuk dan mulai nyanyi,” kisah Naomie, gadis kelahiran Toraja 30 tahun yang lalu.
|
| |
Berawal dari mengajar 12 anak di balai desa, lalu berpindah-pindah tempat karena belum memiliki gedung. Seiring waktu, jumlah murid terus bertambah, mencapai 30 anak ketika TK dipindahkan di Puskesmas. Tahun kedua, sudah 40 anak ketika TK pindah di bekas rumah dinas guru yang sudah usang. “Aku sangat sedih karena kondisi rumah dinas tersebut dindingnya telah lapuk dan lantainya hanyalah puing-puing, tak jarang anak-anak jatuh dan terluka,” ucapnya lirih. |
| |
Dibantu dengan Syarat
Tapi apalah daya, tak kan mungkin berbekal uang bayaran muridnya ia bisa membangun sekolah. Naomi mengadukan kondisi TKnya ke Pemda setempat, terkesan tutup mata awalnya, ia pun semakin keras berdoa. Tak disangka, Pemda akhirnya ulurkan tangan, tapi dengan syarat; TK harus masuk dalam peringkat 10 besar TK terbaik di propinsi. Ia dan anak muridnya pun tak berhenti berprestasi, juara berbagai lomba terus disabet dan tak jarang anak-anak TKnya kerap mewakili desa di tingkat kabupaten. Lulusannya pintar-pintar, kata guru sekolah dasar. Hingga pada suatu siang, tim verifikasi tiba di TKnya dan menyatakan TK Pelita berada di peringkat 5 terbaik. |
| |
“Senang bukan main,” kata Naomi, aku tak pernah lupa ucapan ketua tim verifikasi yang mengatakan kalau “Tuhan mampu mengubah air matamu menjadi mata air.” Ingin rasanya aku menuliskannya besar-besar di pintu masuk TK, lanjutnya haru. |
| |
TK Membawa Desa Juara Nasional
Dana pembangunan sekolah pun turun namun jumlahnya hanya pas untuk pembelian bahan bangunan saja, sementara dana tak tersisa lagi untuk upah tukang. Naomi berpikir untuk melibatkan masyarakat, gotong-royong membangun sekolah, “lagi pula jika dilakukan secara swadaya, masyarakat akan merasa turut memiliki,” pikirnya. Hasil musyawarah tokoh adat, Naomi, orang tua murid, dan masyarakat menyepakati bila pembangunan sekolah dikerjakan oleh tiap-tiap keluarga di desa Londoun dan sekitarnya secara bergiliran setiap minggunya. Mereka menamainya “Kamis Membangun”, karena pengerjaannya dilakukan setiap hari Kamis.
Alkisah, gedung TK di tepi jalan menurun dari bukit pun berdiri cantik dan menawan dikelilingi taman bunga, dengan papan nama yang anggun “Selamat datang di TK Pelita Terpadu”.
| |
.jpg) |
|
Setelah itu “Kamis Membangun” menjadi kebiasaan baru di Desa Londoun. Bahkan dengan “Kamis Membangun” pula masyarakat berhasil menyelesaikan gedung serba guna untuk desanya, gapura desa, lalu kebiasaan ini membudaya, masyarakat memakai hari Kamis untuk kerjabakti membersihkan desa. Tak pernah terbayangkan setelah sekian waktu berlalu, karena kebersihannya nama desa Londoun melambungkan setelah meraih penghargaan Desa Terbersih kedua Tingkat Nasional.
|
|
| |
Harapan menjadi Pelita
Kini semua seperti terbalik 180 derajat, dulu saya hanya punya 12 murid, sempat ditolak masyarakat, dan tidak punya tempat. Kini saya melayani 62 anak, dan yang menolak saya pun menyekolahkan anak-anaknya di TK Pelita, sekarang sudah punya gedung sendiri bahkan ruangnnya hampir tidak cukup lagi. |
| |
Dulu saya berniat pergi tinggalkan desa ini karena masalah yang pelik, tapi masyarakat menahan saya dan saya pun sadar kalau mereka sungguh membutuhkan saya. Tapi, kini saya berdoa supaya TK bisa memiliki ruangan lagi yang lebih besar jadi bisa menampung lebih banyak anak-anak. “Saya rindu TK Pelita benar-benar bisa menjadi pelita yang menerangi masyarakat sekitar,” ucapnya semangat. (toni) |
Share
| |
| |
|
|