Sore itu kami menyampaikan kabar gembira tentang prestasi sekolah Wida yang kini duduk di kelas 6 SD. Ibunya nampak tersenyum mendegar hal itu, namun kegetiran begitu terasa. “Wida bercita-cita menjadi guru dan olahragawati, dan itu bagus sekali..,” ucap sang ibu sambil menatap kosong ke jalan setapak di depan rumah.
“Wida mungkin hanya sekolah sampai SMP saja, kalau kami tidak punya uang untuk biaya sekolahnya nanti,” lanjut sang ibu datar. Wida nampak berusaha tetap tekun di meja belajar kecilnya di ruang tamu, ia bukan tak mendengar ucapan ibunya, tapi anak perempuan 12 tahun ini adalah type orang yang optimis menatap masa depan. Ia tetap melangkah meski jalan di depannya akan serasa berat..
Sebenarnya sikap ibu Wida adalah gambaran umum dari sikap apatis masyarakat desa terhadap pendidikan. Masalah ekonomi selalu menjadi kendala utama gerak maju mereka, dari generasi ke generasi. Dan faktor ini juga yang akhirnya akan melahirkan generasi miskin berikutnya.
Yayasan PESAT (Pelayanan Desa Terpadu) sejak tahun 2003 telah membuka Program Pembinaan dan Beasiswa di desa-desa dimana TK-tk yang didirikan PESAT berada. Anak-anak yang masuk dalam pembinaan adalah mereka yang masih di TK dan para alumni TK PESAT yang kini sudah berada di SD dan SMP. Program ini mempunyai harapan agar pendidikan anak dapat berkesinambungan dan mereka bisa memiliki masa depan yang gemilang serta mampu meraih mimpinya.
Rembang petang semakin meremang, sudah saatnya saya meninggalkan desa Jlegong, saya menyalami Wida seraya membisikkan, “Masa depan sungguh ada, dan harapanmu tak akan hilang..” Ia tersenyum dan melambaikan tangannya, sampai jumpa lagi..(toni)
|