Afrilia periang, ia dan keluarga tinggal di rumah panggung mungil yg dinding dan lantainya dari kayu, atapnya dari daun dan tidak ada listrik, jika malam mereka memakai pelita dan obor. mereka tinggal di desa yang terpencil di pelosok Kalbar
Ayah Afrilia sakit-sakitan, jadi ibunya yang membanting-tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Afrilia terpaksa harus mandiri, ia berangkat dan pulang sekolah seorang diri dan harus berjalan sejauh 4 KM setiap hari. Tapi Afrilia jarang mengeluh.
Ia kini duduk di TK B